Di Balik Layar Sentuh, Ada Tanggung Jawab yang Sering Terlupa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Layar ponsel sering menghadirkan dunia yang tampak sederhana. Ikon berwarna-warni memberi kesan ramah dan mudah digunakan. Banyak orang merasa akrab dengan teknologi karena tampilannya yang bersahabat. Namun kemudahan ini menyimpan tantangan tersembunyi. Literasi digital menuntut lebih dari sekadar rasa nyaman.
Menguasai aplikasi tidak otomatis berarti memahami ekosistem digital. Ada algoritma yang bekerja, ada kepentingan yang bermain. Konten yang muncul bukan kebetulan semata. Tanpa kesadaran ini, pengguna mudah terjebak dalam arus informasi. Literasi digital membantu membuka lapisan yang tak terlihat.
Di media sosial, misalnya, linimasa sering terasa sangat personal. Padahal ia dibentuk oleh data dan kebiasaan. Apa yang sering ditonton akan terus disajikan. Tanpa literasi, pengguna mengira dunia digital adalah cerminan realitas. Padahal ia hanyalah potongan yang dipilihkan. Kesadaran ini penting agar tidak terjebak dalam sudut pandang sempit.
Banyak perdebatan daring berawal dari kesalahpahaman. Informasi dibaca setengah-setengah lalu disebarkan. Emosi mendahului verifikasi. Literasi digital mengajarkan jeda sebelum bereaksi. Jeda ini memberi ruang bagi nalar untuk bekerja. Dari sinilah tanggung jawab digital tumbuh.
Tanggung jawab juga berkaitan dengan jejak digital. Apa yang diunggah hari ini bisa bertahan lama. Tangkapan layar tidak mengenal lupa. Literasi digital membantu seseorang berpikir tentang masa depan. Setiap unggahan menjadi bagian dari identitas daring. Kesadaran ini mendorong kehati-hatian.
Selain itu, literasi digital menuntut kemampuan beretika. Bahasa yang digunakan di ruang digital sering kehilangan sopan santun. Anonimitas memberi rasa aman semu. Literasi digital mengingatkan bahwa etika tidak berhenti di dunia nyata. Nilai kemanusiaan tetap relevan di balik layar.
Teknologi seharusnya memperluas wawasan, bukan mempersempit empati. Tanpa literasi, ruang digital mudah menjadi bising dan melelahkan. Dengan literasi, ia bisa menjadi ruang belajar bersama. Perbedaan pandangan dikelola dengan dewasa. Dialog menggantikan caci maki.
Pada akhirnya, bisa memakai ponsel hanyalah langkah awal. Melek digital adalah perjalanan menuju kedewasaan berpikir. Di balik setiap sentuhan layar, ada tanggung jawab yang menyertainya. Kesadaran inilah yang membedakan pengguna biasa dengan warga digital yang bijak.
Penulis: Resinta Aini Z.