Digitalisasi Sekolah dan Pilihan Etis di Balik Layar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di penghujung perbincangan tentang digitalisasi sekolah, satu hal menjadi semakin jelas bahwa teknologi tidak pernah hadir sebagai alat yang netral. Ia membawa nilai, kepentingan, dan konsekuensi yang menyertainya. Kemudahan layanan digital memang menawarkan efisiensi yang sulit ditolak. Proses menjadi cepat, data tersaji rapi, dan komunikasi terasa lebih lancar. Semua tampak selaras dengan tuntutan zaman yang serba instan. Namun di balik layar yang menyala tenang, tersimpan pilihan-pilihan etis yang jarang disorot. Pilihan inilah yang menentukan arah digitalisasi ke depan.
Digitalisasi sekolah telah mengubah cara layanan pendidikan dijalankan. Administrasi, evaluasi, dan komunikasi bergerak ke ruang daring yang saling terhubung. Dalam keterhubungan itu, data menjadi bahan bakar utama sistem. Data dikumpulkan, dianalisis, dan disimpan dalam skala besar. Tanpa pengelolaan yang hati-hati, data berubah dari alat bantu menjadi sumber risiko. Risiko ini tidak selalu tampak di awal, tetapi tumbuh seiring waktu.
Di ruang publik digital, kesadaran tentang keamanan data semakin sering muncul ke permukaan. Konten media sosial, diskusi daring, hingga video singkat membahas bahaya kebocoran informasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa isu keamanan bukan lagi wacana teknis semata. Ia telah menjadi kegelisahan sosial yang nyata. Sekolah sebagai institusi publik tidak berada di luar kegelisahan tersebut. Justru di sanalah kepercayaan publik dipertaruhkan.
Keamanan data bukan hanya persoalan sistem dan perangkat. Ia juga menyangkut sikap dan budaya dalam menggunakan teknologi. Tanpa budaya aman, sistem secanggih apa pun akan rapuh. Kebiasaan abai terhadap privasi memperbesar celah yang ada. Di sinilah literasi digital menemukan makna sejatinya. Literasi tidak berhenti pada kemampuan menggunakan, tetapi juga memahami risiko dan tanggung jawab.
Kemudahan layanan sering kali membuat keamanan terasa sebagai beban tambahan. Perlindungan dianggap memperlambat, membatasi, atau menyulitkan. Padahal keamanan adalah syarat agar kemudahan dapat bertahan. Tanpa rasa aman, kepercayaan akan terkikis perlahan. Sekali kepercayaan hilang, pemulihannya memerlukan waktu dan upaya besar. Dalam konteks pendidikan, kepercayaan adalah fondasi yang tidak tergantikan.
Pilihan antara kemudahan dan keamanan sejatinya bukan pilihan yang harus saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan jika ditempatkan secara proporsional. Digitalisasi yang matang adalah digitalisasi yang sadar risiko. Ia tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga menjaga martabat data sebagai bagian dari identitas manusia. Di sanalah teknologi berfungsi sebagai alat, bukan penguasa.
Pada akhirnya, digitalisasi sekolah adalah cermin dari nilai yang dianut masyarakatnya. Apakah kemajuan hanya diukur dari kecepatan dan kemudahan, atau juga dari tanggung jawab dan kehati-hatian. Keamanan data bukan penghalang inovasi, melainkan penopang keberlanjutan. Di balik layar digital, pilihan etis terus menunggu untuk ditegaskan. Dari pilihan itulah masa depan layanan pendidikan digital akan ditentukan.
Penulis: Resinta Aini Z.