Dilema Digital dan Urgensi Menjaga Kesehatan Mental Siswa Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fenomena penggunaan media sosial pada usia sekolah dasar telah menciptakan paradoks yang cukup mengkhawatirkan di tengah masyarakat modern. Di satu sisi, teknologi menawarkan akses informasi yang tak terbatas, namun di sisi lain, kerentanan mental anak-anak menjadi taruhan utama yang sulit diabaikan. Anak-anak pada fase pendidikan dasar secara psikologis belum memiliki kemandirian emosional yang cukup kuat untuk memproses dinamika di jagat maya. Oleh karena itu, pembatasan akses bukan sekadar tindakan otoriter orang tua, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk memproteksi kesejahteraan psikis mereka. Tanpa adanya regulasi yang jelas, siswa akan terjebak dalam arus validasi semu yang berpotensi merusak kepercayaan diri mereka sejak dini.
Transisi dari interaksi fisik ke interaksi digital yang terlalu dini sering kali mengganggu proses perkembangan kognitif dan afektif siswa. Media sosial sering kali menampilkan standar kehidupan yang tidak realistis sehingga memicu rasa rendah diri pada anak yang sedang mencari jati diri. Paparan konten yang tidak sesuai usia juga mempercepat proses pendewasaan dini yang tidak diimbangi dengan kematangan logika. Hal ini menciptakan urgensi bagi institusi pendidikan untuk menempatkan isu kesehatan mental sebagai prioritas utama dalam kurikulum pendampingan. Jika kesehatan mental terganggu, maka prestasi akademik dan kemampuan bersosialisasi anak di dunia nyata akan mengalami degradasi yang signifikan.
Langkah preventif melalui pembatasan akses media sosial memerlukan sinergi yang harmonis antara pihak sekolah dan lingkungan keluarga. Guru di sekolah dasar memiliki peran strategis untuk memberikan pemahaman mengenai dampak negatif dari kecanduan layar yang berlebihan. Sementara itu, orang tua di rumah harus mampu menjadi figur teladan yang membatasi penggunaan gawai demi terciptanya komunikasi interpersonal yang berkualitas. Penegakan aturan pembatasan ini tidak boleh dipandang sebagai penghambat kemajuan, melainkan sebagai bentuk kasih sayang dalam menjaga stabilitas emosi anak. Dengan pembatasan yang tepat, anak-anak memiliki ruang lebih luas untuk mengeksplorasi kreativitas melalui aktivitas fisik dan hobi yang lebih menyehatkan.
Membangun ketangguhan mental siswa di era digital memerlukan strategi yang tidak hanya bersifat melarang, tetapi juga mengedukasi secara persuasif. Pihak sekolah dapat mengintegrasikan materi literasi emosional agar siswa mampu mengenali batasan antara dunia maya yang maya dan realitas yang nyata. Ketika siswa memahami bahwa kebahagiaan tidak diukur dari jumlah pengikut atau suka di media sosial, mereka akan lebih fokus pada pengembangan potensi diri. Perlindungan mental ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat secara psikis dan stabil secara emosional. Keberhasilan pendidikan dasar saat ini sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu menjauhkan anak-anak dari toksisitas dunia digital yang kian liar.
Sebagai penutup, tantangan dalam mengelola penggunaan media sosial pada anak sekolah dasar merupakan cermin dari tanggung jawab kolektif sebagai pendidik dan orang tua. Kebijakan pembatasan yang diambil harus didasarkan pada landasan pedagogis yang kuat agar tidak menimbulkan resistensi dari sisi anak. Pendidikan dasar adalah fondasi utama bagi pembentukan karakter, sehingga segala bentuk gangguan yang berpotensi merusak fondasi tersebut harus diminimalisir. Kita perlu menyadari bahwa teknologi adalah alat, sementara kesehatan mental anak adalah jiwa dari keberhasilan pendidikan itu sendiri. Dengan menjaga kewarasan digital anak sejak dini, kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang memiliki kecerdasan emosional yang mumpuni.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti