Doa Puasa Rajab dan Penguatan Budaya Lokal di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Peningkatan pencarian doa puasa Rajab di berbagai platform digital menunjukkan bahwa tradisi keagamaan masih hidup dan dijaga oleh masyarakat. Fenomena ini mencerminkan adanya keterhubungan antara nilai spiritual, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Bagi dunia pendidikan, khususnya sekolah dasar, tren ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang memperkenalkan siswa pada budaya religius lokal secara kontekstual dan bermakna.
Di lingkungan sekolah dasar, guru memiliki peran strategis dalam mengenalkan makna bulan Rajab secara sederhana dan sesuai dengan perkembangan usia siswa. Pembelajaran tidak diarahkan pada penguatan doktrin keagamaan, melainkan pada pengenalan tradisi dan nilai moral yang terkandung di dalamnya, seperti sikap menghormati waktu, persiapan diri, dan introspeksi. Pendekatan edukatif ini membantu siswa memahami tradisi sebagai bagian dari kebudayaan yang hidup di masyarakat.
Melalui kegiatan membaca doa, mendengarkan cerita, atau diskusi ringan tentang bulan Rajab, siswa tidak hanya mengenal tradisi keagamaan, tetapi juga mengembangkan keterampilan literasi dasar. Aktivitas membaca dan menyimak cerita melatih kemampuan memahami teks, memperkaya kosakata, serta meningkatkan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat. Dengan demikian, pembelajaran agama dan budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan kompetensi literasi.
Dari sudut pandang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), praktik pembelajaran ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas yang menekankan pentingnya pembelajaran yang relevan dengan konteks sosial dan budaya. Pendidikan dasar yang mengaitkan materi pembelajaran dengan realitas budaya lokal akan lebih mudah diterima oleh siswa dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna serta berkelanjutan.
Pembelajaran berbasis budaya lokal, seperti pengenalan tradisi puasa Rajab, membantu siswa mengenal dan menghargai identitas sosialnya sejak dini. Sekolah dasar menjadi ruang penting untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya sendiri sekaligus membangun sikap toleran terhadap keberagaman. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran budaya siswa secara utuh.
# # #
Penulis: Nabila Mutiara Febriyanti