Efek Domino Grup WhatsApp Orang Tua Terhadap Budaya Belajar dan Kemampuan Problem Solving Peserta Didik
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Keberadaan grup WhatsApp orang tua yang terlalu aktif telah memicu efek domino yang secara perlahan mengubah budaya belajar di tingkat sekolah dasar. Budaya belajar yang seharusnya berbasis pada kemandirian dan rasa ingin tahu siswa kini bergeser menjadi budaya ketergantungan pada informasi instan dari orang tua. Ketika segala informasi mengenai tugas dan materi ajar dikelola secara eksklusif oleh orang tua di ruang digital, siswa kehilangan kesempatan untuk melatih daya ingat dan tanggung jawabnya. Fenomena ini berdampak langsung pada menurunnya kemampuan problem solving atau pemecahan masalah pada anak didik karena mereka tidak terbiasa menghadapi kesulitan sendirian. Setiap hambatan kecil yang muncul di sekolah seolah memiliki jalan pintas melalui bantuan orang tua yang siap siaga di layar ponsel pintar mereka.
Efek domino ini juga terlihat pada bagaimana siswa merespons instruksi guru di dalam kelas yang kini sering kali diabaikan karena mereka merasa tidak perlu mencatat atau mengingat. Siswa mengasumsikan bahwa orang tua mereka pasti akan menanyakan kembali detail tugas tersebut di grup WhatsApp sehingga mereka kehilangan fokus selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini merusak kebiasaan mendengarkan secara aktif yang merupakan salah satu pilar penting dalam literasi dan kemampuan belajar sepanjang hayat. Tanpa kebiasaan menyimak yang baik, pemahaman konsep yang mendalam sulit dicapai karena perhatian anak terfragmentasi oleh kepastian adanya bantuan dari luar. Kondisi ini menuntut guru untuk bekerja ekstra keras dalam mengembalikan minat siswa terhadap tanggung jawab akademik mereka yang sebenarnya.
Dalam jangka panjang, rendahnya kemampuan problem solving akibat intervensi digital orang tua akan menghambat daya saing siswa di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Masalah-masalah sederhana seperti mencari buku yang hilang atau menanyakan bagian materi yang tidak dimengerti kepada guru kini sering kali didelegasikan kepada orang tua. Padahal, momen-momen sulit itulah yang melatih keberanian anak untuk berkomunikasi secara asertif dengan otoritas pendidik di sekolah. Jika setiap masalah selalu diselesaikan oleh orang tua melalui "jalur belakang" digital, anak tidak akan pernah merasakan kepuasan batin saat berhasil memecahkan masalahnya sendiri. Padahal, rasa kompetensi diri yang lahir dari keberhasilan memecahkan masalah secara mandiri adalah kunci utama kepercayaan diri seorang siswa.
Transformasi budaya belajar ini memerlukan intervensi kebijakan dari pihak sekolah untuk menetapkan standar komunikasi yang lebih sehat dan berorientasi pada anak. Sekolah dapat menerapkan kebijakan di mana informasi detail tugas hanya diberikan secara lisan di kelas untuk melatih kemandirian siswa dalam mencatat. Selain itu, orang tua perlu diberikan edukasi agar tidak langsung memberikan jawaban saat anak mengeluh kesulitan, melainkan mendorong anak untuk mencari solusinya sendiri. Kolaborasi yang efektif adalah saat orang tua bertindak sebagai motivator di rumah tanpa harus mengambil alih peran eksekutif anak dalam belajar. Dengan menghentikan efek domino ini, kita sedang mengembalikan hak anak untuk belajar menjadi pribadi yang tangguh dan cerdas secara alami.
Sebagai refleksi, keberhasilan pendidikan dasar tidak boleh hanya diukur dari nilai akademik yang tinggi di atas kertas, tetapi juga dari kematangan keterampilan hidup siswa. Kemampuan memecahkan masalah adalah aset paling berharga di masa depan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi komunikasi apa pun. Mari kita sadari bahwa setiap kali kita membiarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri, kita sedang memperkuat fondasi masa depan mereka yang lebih cerah. Grup WhatsApp sekolah harus kembali pada fungsinya sebagai sarana koordinasi administratif sederhana, bukan sebagai pusat kendali belajar anak. Dengan mengembalikan kedaulatan belajar kepada siswa, kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang mampu berpikir kritis dan bertindak solutif di tengah tantangan zaman.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti