Efek Dopamin Digital: Mengapa Belajar dari TikTok Terasa Lebih "Nyata" bagi Anak?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pernahkah Anda
mengamati bagaimana seorang siswa sekolah dasar yang nampak sangat lesu di
dalam kelas tiba-tiba menjadi sangat bersemangat saat membicarakan tren terbaru
yang mereka saksikan di layar gawai? Fenomena ini bukan semata-mata masalah
kemalasan, melainkan berkaitan erat dengan mekanisme biologis di mana otak anak
telah terbiasa mendapatkan kepuasan instan melalui "ledakan dopamin"
dari konten digital. Buku teks dan metode ceramah guru menawarkan stimulasi
yang berjalan lambat, sedangkan video pendek memberikan kepuasan kognitif
instan yang sangat adiktif bagi saraf anak.
Para peneliti di bidang
pendidikan mencatat adanya pergeseran pola belajar dari yang semula bersifat
mendalam (deep learning) menjadi sangat permukaan (surface learning)
akibat pengaruh media sosial. Siswa merasa telah menguasai sebuah topik hanya
dengan menonton video berdurasi beberapa detik, padahal pemahaman tersebut
bersifat fragmentaris dan kehilangan konteks esensial. Mereka lebih mempercayai
figur digital karena cara penyampaiannya yang dianggap lebih "renyah"
dan mudah dikonsumsi tanpa harus melalui proses berpikir yang melelahkan
sebagaimana dituntut oleh buku teks.
Namun, di balik kemudahan
tersebut tersimpan bahaya besar berupa pengetahuan yang tidak memiliki landasan
logika sebab-akibat yang utuh dan teruji secara ilmiah. Anak-anak hanya
menyerap potongan informasi yang dianggap menarik secara visual, sementara bagian-bagian
penting yang bersifat teknis atau konseptual sering kali terabaikan. Kondisi
inilah yang menyebabkan guru kesulitan saat mencoba memberikan penjelasan yang
komprehensif, karena otak siswa telah terkalibrasi untuk menolak proses belajar
yang memerlukan ketekunan dan waktu yang lebih lama.
Guru modern dituntut
untuk beradaptasi dengan menciptakan modul pembelajaran yang memiliki unsur
visualisasi yang kuat dan mampu memicu rasa ingin tahu secara instan.
Menggunakan cuplikan media sosial sebagai pemantik diskusi ilmiah di kelas
dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menarik kembali atensi siswa ke jalur
akademik. Dengan membawa fenomena digital ke dalam ruang diskusi yang
terbimbing, guru dapat menunjukkan kepada siswa di mana letak kebenaran dan di
mana letak distorsi dari sebuah konten yang viral.
Pendidikan tidak boleh
kalah bersaing dengan platform hiburan dalam hal cara penyajian, namun tetap
harus memegang kendali atas kedalaman isi yang disampaikan. Kita harus
menyadari bahwa otoritas guru saat ini tidak lagi datang dari posisi jabatan
semata, melainkan dari kemampuan mereka untuk relevan dengan kebutuhan zaman.
Masa depan intelektualitas anak bangsa sangat bergantung pada keseimbangan
antara kemajuan teknologi digital dan ketajaman analisis yang hanya bisa
didapat melalui literasi yang mendalam.
Mengembalikan pamor buku
teks berarti juga melakukan redesain terhadap konten pendidikan agar lebih
ramah terhadap cara kerja otak generasi Alpha tanpa merendahkan standar
kualitasnya. Sinergi antara guru yang inspiratif dan media belajar yang adaptif
akan menciptakan lingkungan sekolah yang tidak lagi dianggap membosankan oleh
siswa. Pada akhirnya, tugas utama pendidikan adalah melatih siswa agar tidak
menjadi budak dopamin digital, melainkan menjadi individu yang berdaulat atas
pikiran dan pilihan informasinya sendiri.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah