Empati sebagai Kurikulum: Melatih Siswa SD Memahami Perspektif Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah
kondisi dunia yang semakin terfragmentasi oleh kepentingan politik partisan,
sejumlah sekolah dasar di Yogyakarta mulai menerapkan metode "Pembelajaran
Berbasis Empati" untuk menjembatani jurang pemahaman antar-budaya sejak
awal semester ini. Metode inovatif ini tidak hanya berfokus pada penguasaan
materi akademik semata, tetapi pada kemampuan radikal siswa untuk menempatkan
diri dalam posisi orang lain yang memiliki latar belakang yang sangat berbeda.
Langkah ini dipandang mendesak karena banyak pakar percaya bahwa polarisasi
global sering kali berakar dari ketidakmampuan individu untuk melihat sisi
kemanusiaan dari mereka yang dianggap sebagai "pihak lawan" atau
kelompok asing.
Secara psikologis,
latihan empati yang diberikan pada anak usia sekolah dasar dapat menurunkan
tingkat agresivitas interpersonal secara signifikan dan meningkatkan kemauan
untuk berkolaborasi dengan kelompok yang heterogen. Siswa belajar bahwa di
balik setiap label politik, etnis, atau identitas sosial, terdapat cerita
manusia yang memiliki kesamaan perasaan, kebutuhan, dan harapan dasar yang
universal. Analisis mendalam menunjukkan bahwa empati adalah penawar paling
mujarab bagi bibit radikalisme pemikiran yang kini mulai menyasar kelompok usia
muda melalui jalur informasi yang tidak terfiltrasi di rumah. Pendidikan moral
yang mengedepankan kasih sayang universal menjadi fondasi utama bagi
terciptanya perdamaian yang berkelanjutan, baik di level lokal maupun
internasional.
Kurikulum ini diterapkan
melalui kegiatan narasi, di mana siswa diajak mendengarkan cerita-cerita dari
berbagai belahan dunia yang mengalami konflik atau tantangan sosial. Guru
membimbing siswa untuk berdiskusi tentang perasaan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut,
memancing mereka untuk merasakan kesedihan, kegembiraan, dan harapan yang
dirasakan orang lain. Melalui teknik perspective-taking, siswa dilatih
untuk tidak menghakimi perbedaan, melainkan mencari titik temu kemanusiaan yang
mempersatukan. Hal ini sangat efektif untuk menghancurkan prasangka-prasangka
yang mungkin tanpa sadar sudah tertanam dalam diri anak akibat pengaruh
lingkungan sosial yang sempit dan homogen.
Selain diskusi, program
ini juga melibatkan kegiatan kolaboratif lintas sekolah yang mempertemukan
siswa dari berbagai latar belakang ekonomi dan sosial yang berbeda di wilayah
Yogyakarta. Dalam kegiatan ini, siswa harus bekerja sama menyelesaikan sebuah
proyek kreatif, yang memaksa mereka untuk berkomunikasi dan saling membantu
meskipun memiliki perbedaan cara pandang. Pengalaman nyata bekerja sama ini
memberikan bukti fisik bagi anak-anak bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk
mencapai tujuan yang baik secara bersama-sama. Nilai-nilai gotong royong yang
menjadi ciri khas Indonesia kembali direvitalisasi dalam konteks yang lebih
modern dan relevan dengan tantangan polarisasi global saat ini.
Keberhasilan program ini
sangat bergantung pada keberanian sekolah untuk membuka dialog tentang isu-isu
sensitif dengan cara yang tepat dan disesuaikan dengan tahapan usia
perkembangan anak. Pendidikan tidak boleh lagi bersikap naif dan menghindar
dari realitas polarisasi dunia, melainkan harus menjadikannya bahan diskusi
yang sehat untuk melatih kejernihan hati dan pikiran siswa. Jika anak-anak kita
tumbuh dengan akar empati yang kokoh, mereka akan menjadi agen perdamaian yang
tidak mudah tergiur oleh narasi-narasi perpecahan yang bersifat dangkal.
Pendidikan moral adalah tugas kemanusiaan untuk menjaga agar dunia tetap
menjadi tempat yang ramah bagi setiap individu, tanpa memandang apa pilihan
politik mereka kelak.
Pihak sekolah juga
menekankan bahwa empati bukan berarti setuju dengan semua pendapat orang lain,
melainkan menghargai hak orang lain untuk berbeda pendapat tanpa harus memicu
kebencian. Pelajaran tentang batasan toleransi dan penghormatan terhadap martabat
manusia menjadi materi inti yang terus diulang dalam berbagai kesempatan
belajar. Guru berperan aktif dalam memberikan contoh nyata bagaimana menyikapi
perbedaan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Hal ini memberikan rasa
aman bagi siswa untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi, sekaligus
melatih mereka untuk memberikan rasa aman yang sama kepada teman-teman di
sekitar mereka.
Sebagai kesimpulan,
menjadikan empati sebagai bagian dari kurikulum wajib adalah langkah
revolusioner untuk memutus rantai polarisasi sejak dari akarnya. Kita tidak
bisa hanya mengandalkan kecerdasan intelektual untuk membangun masa depan yang
damai, karena kecerdasan tanpa empati hanya akan menghasilkan teknokrat yang
dingin dan sektarian. Pendidikan moral berbasis empati adalah investasi jangka
panjang untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia di tengah guncangan politik
global yang tidak menentu. Jika hari ini siswa SD kita belajar untuk saling
memahami, maka hari esok mereka akan mampu memimpin dunia dengan kebijakan yang
lebih manusiawi dan inklusif. Masa depan kemanusiaan bergantung pada kedalaman
hati generasi mudanya.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah