Energi Surya untuk Pendidikan: Belajar dari Atap Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —
Pemasangan panel surya di atap-atap sekolah dasar kini mulai menjadi tren baru
dalam gerakan Sekolah Ramah Lingkungan di Jawa Timur, seiring dengan target
pemerintah untuk mempercepat transisi energi. Bukan sekadar untuk menekan biaya
operasional listrik, keberadaan teknologi energi terbarukan ini dimanfaatkan
sebagai alat peraga edukasi langsung yang revolusioner bagi siswa kelas atas.
Sejak awal semester ini, siswa diajak melihat secara langsung bagaimana sinar
matahari dikonversi menjadi energi listrik untuk menyalakan lampu kelas, kipas
angin, dan perangkat komputer, memberikan pemahaman konkret mengenai teknologi
masa depan.
Penggunaan
panel surya di sekolah menjadi pintu masuk yang sangat efektif bagi diskusi
mendalam mengenai pemanasan global dan solusi inovatifnya dalam bahasa yang
sederhana bagi anak-anak. Sekolah bukan lagi sekadar konsumen pasif energi
fosil, melainkan produsen energi bersih yang memberikan contoh nyata aksi iklim
di tingkat lokal. Fakta bahwa sekolah mereka berkontribusi pada pengurangan
emisi karbon harian memberikan kebanggaan ekologis tersendiri bagi siswa. Hal
ini memicu rasa ingin tahu yang lebih dalam tentang sains dan teknologi, serta
mendorong mereka untuk berpikir kreatif mengenai cara-cara penghematan energi
di lingkungan rumah mereka masing-masing.
Integrasi
teknologi energi surya ke dalam kurikulum dilakukan melalui pengamatan harian
terhadap layar monitor daya yang menunjukkan jumlah energi yang dihasilkan dan
dikonsumsi sekolah. Siswa diajarkan untuk memahami fluktuasi produksi energi
berdasarkan cuaca, yang secara tidak langsung mengajarkan mereka tentang
dinamika alam. Ketika daya yang dihasilkan rendah karena cuaca mendung, siswa
secara otomatis diingatkan untuk lebih bijak dalam menggunakan peralatan
listrik di kelas. Habituasi "sadar energi" ini terbentuk karena siswa
melihat langsung keterkaitan antara ketersediaan energi dari alam dengan
kenyamanan belajar mereka di dalam kelas.
Secara
finansial, penghematan dari penggunaan energi surya dapat dialokasikan oleh
manajemen sekolah untuk mendanai kegiatan ekstrakurikuler berbasis lingkungan
atau pemeliharaan taman sekolah. Hal ini membuktikan kepada warga sekolah,
terutama orang tua, bahwa investasi pada teknologi hijau memiliki return on
investment yang nyata, baik secara finansial maupun edukasi. Sekolah yang
mandiri energi juga lebih tangguh dalam menghadapi pemadaman listrik yang
sewaktu-waktu dapat mengganggu proses belajar mengajar. Kemandirian ini
memberikan pelajaran tentang resiliensi dan adaptasi terhadap perubahan zaman
kepada para siswa sejak usia dini.
Namun,
keberhasilan program "Solar School" ini sangat bergantung pada
edukasi keselamatan dan pemeliharaan teknis yang melibatkan seluruh warga
sekolah. Siswa harus diajarkan untuk menghormati perangkat teknologi tersebut
dan memahami batasan-batasan teknisnya tanpa mengurangi rasa ingin tahu mereka.
Kerja sama dengan teknisi ahli dan perusahaan energi terbarukan juga diperlukan
untuk memastikan sistem tetap berjalan optimal dan aman bagi lingkungan
sekolah. Di sinilah letak pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan
sektor industri dalam mendukung tercapainya target pembangunan berkelanjutan (SDGs)
di Indonesia.
Transformasi
sekolah menjadi pusat edukasi energi terbarukan juga memiliki dampak domino
bagi masyarakat di sekitar sekolah. Orang tua siswa yang melihat efektivitas
panel surya di sekolah mulai tertarik untuk menerapkan hal serupa di rumah
mereka, menjadikan sekolah sebagai mercusuar inovasi bagi komunitas luas. Siswa
bertindak sebagai duta energi yang menjelaskan kepada keluarga mereka tentang
keuntungan menggunakan energi matahari. Dengan demikian, sekolah benar-benar
menjalankan fungsinya sebagai agen perubahan sosial yang membawa masyarakat
menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan rendah karbon.
Sebagai
kesimpulan, pemasangan panel surya di atap sekolah adalah simbol dari
pencerahan pendidikan yang selaras dengan tantangan krisis iklim global. Kita
tidak sedang hanya memasang sekumpulan alat elektronik, melainkan sedang
menyemai harapan bahwa generasi mendatang mampu mengelola energi secara lebih
etis dan berkelanjutan. Pendidikan lingkungan yang dibarengi dengan bukti
teknologi nyata akan membuat isu perubahan iklim terasa lebih dapat diatasi dan
memotivasi siswa untuk menjadi ilmuwan masa depan. Melalui cahaya matahari yang
ditangkap di atap sekolah, kita sedang menerangi jalan bagi masa depan
Indonesia yang mandiri energi dan lestari.
###
Penulis:
Nur Santika Rokhmah