Erosi Kognitif: Jebakan Budaya Instan dan Matinya Daya Tekun Siswa Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah masifnya penetrasi teknologi digital tahun 2026, ekosistem pendidikan dasar kini sedang menghadapi krisis eksistensial berupa lumatnya ketahanan mental belajar akibat hegemoni budaya instan yang kian mengakar. Sejak awal semester ini, para praktisi pendidikan mulai menyuarakan kegelisahan mengenai fenomena "pintasan kognitif" di mana siswa sekolah dasar cenderung memprioritaskan hasil akhir yang cepat dibandingkan melalui fase dialektika berpikir yang melelahkan namun esensial. Isu ini memaksa dilakukannya redefinisi peran institusi pendidikan agar tidak sekadar menjadi fasilitator administratif, melainkan benteng pertahanan bagi nalar kritis generasi masa depan yang kian rapuh.
Secara neurologis, proses belajar sejati menuntut adanya pembentukan koneksi sinapsis yang kuat melalui latihan yang repetitif dan konsisten untuk mentransfer informasi ke dalam memori jangka panjang (long-term memory). Namun, budaya instan yang menawarkan kemudahan akses informasi membuat otot-otot kognitif siswa menjadi atrofi karena jarang dilatih untuk menghadapi hambatan intelektual yang kompleks. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa siswa yang terlalu bergantung pada aplikasi penjawab soal otomatis seringkali mengalami disorientasi logika ketika dihadapkan pada variasi soal yang sedikit dimodifikasi, membuktikan bahwa pemahaman prosedural mereka telah tergantikan oleh imitasi mekanis.
Ditinjau dari sudut pandang pedagogis, ketekunan merupakan jangkar utama agar ilmu pengetahuan tidak hanya singgah sebagai informasi permukaan, tetapi menetap menjadi keahlian yang transformatif bagi karakter siswa. Jika pendidikan dasar hanya berorientasi pada efisiensi semu dan kecepatan hasil, kita secara sadar sedang melahirkan generasi yang memiliki wawasan luas namun dangkal, atau "tahu banyak tentang sedikit hal" tanpa mampu menjelaskan kausalitas di baliknya. Menghargai proses belajar yang lambat bukanlah sebuah kemunduran teknologi, melainkan sebuah strategi defensif untuk membangun ketangguhan mental siswa agar tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan hidup yang nyata.
Beban kurikulum yang seringkali menuntut ketuntasan materi dalam waktu singkat turut memperkeruh kondisi ini, karena memaksa guru dan siswa untuk mengambil jalan pintas demi memenuhi standar nilai di atas kertas. Krisis ini menuntut jawaban segera melalui restrukturisasi metode evaluasi yang lebih menekankan pada narasi proses, refleksi diri, dan keberanian untuk melakukan kesalahan sebagai bagian dari penemuan ilmiah. Guru kini ditantang untuk bertransformasi menjadi mentor yang mampu memprovokasi logika mahasiswa, memaksa mereka untuk mempertanyakan setiap jawaban yang keluar dari mesin, dan mencari celah bias dalam setiap algoritma yang mereka gunakan.
Analisis dari para pakar pendidikan dasar menekankan bahwa kemampuan untuk bersabar dan menekuni hal-hal sulit adalah sebuah "kekuatan super" yang mulai langka di era serba otomatis ini, padahal justru itulah yang dibutuhkan di dunia kerja masa depan. Belajar yang mendalam (deep learning) membutuhkan ketenangan, kesendirian, dan waktu yang cukup untuk merenung, sesuatu yang seringkali dianggap sebagai hambatan oleh budaya populer yang memuja kecepatan. Jika kita tidak segera mengembalikan marwah ketekunan di ruang kelas, universitas hanya akan menjadi pabrik ijazah yang menghasilkan individu dengan kemampuan berpikir robotik tanpa kedalaman kearifan manusia.
Ketergantungan yang berlebihan pada teknologi sebagai pengganti fungsi otak bukan sebagai alat bantu telah menciptakan sebuah "ilusi kompetensi" yang sangat berbahaya bagi kedaulatan intelektual bangsa Indonesia. Siswa merasa telah menguasai sebuah konsep hanya karena mereka mampu menemukan jawabannya di internet dalam hitungan detik, padahal itu hanyalah transmisi data tanpa proses internalisasi. Pengetahuan sejati hanya bisa diraih melalui pergulatan pemikiran yang intens, di mana siswa belajar untuk mencintai proses pencarian kebenaran lebih daripada sekadar kepuasan mendapatkan nilai sempurna dari hasil pekerjaan mesin.
Sebagai penutup, tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan ini adalah sebuah perjuangan panjang untuk tetap memanusiakan proses belajar di tengah arus otomatisasi yang tidak terbendung. Menghargai setiap coretan tangan, setiap hapusan kesalahan, dan setiap tetes keringat pikiran di buku tulis adalah langkah awal untuk mengembalikan martabat manusia sebagai makhluk pembelajar yang tekun. Mari kita ajak seluruh komponen pendidikan untuk kembali mencintai proses yang lambat namun bermakna, karena hanya di dalam ketekunan itulah karakter, integritas, dan kejayaan masa depan bangsa dapat ditempa secara utuh dan autentik.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah