Estetika Matematika: Membawa Keindahan Masalah Kontekstual ke Dalam Kelas Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Selama ini, matematika di sekolah dasar sering dipandang sebagai subjek yang "dingin", kaku, dan penuh dengan aturan yang membatasi, sebuah persepsi yang sangat bertolak belakang dengan hakikat matematika sebagai seni berpikir. Rendahnya skor PISA kita sering kali berakar pada ketidaktertarikan siswa terhadap subjek ini, yang disebabkan oleh pembelajaran rutin yang menghilangkan unsur keindahan dan relevansi. Membawa kembali "estetika" ke dalam matematika berarti menyajikan masalah-masalah kontekstual yang menarik minat anak, memicu rasa penasaran, dan memberikan kepuasan intelektual saat sebuah solusi ditemukan.
Masalah kontekstual yang baik sebenarnya memiliki nilai estetis karena mampu menyederhanakan kompleksitas dunia menjadi pola-pola yang bisa dipahami. Di tingkat SD, keindahan ini bisa muncul melalui eksplorasi pola alam, geometri dalam arsitektur tradisional, atau logika di balik permainan rakyat. Ketika siswa melihat bahwa matematika adalah bahasa yang digunakan alam semesta untuk "berbicara", motivasi belajar mereka akan berubah dari motivasi eksternal (nilai) menjadi motivasi internal (ingin tahu). Inilah modal utama untuk mencapai literasi matematika tingkat tinggi sebagaimana yang diukur oleh PISA.
Namun, realitas kelas kita sering kali membunuh keindahan ini dengan latihan rutin yang repetitif. Bayangkan seorang anak yang dipaksa mewarnai gambar yang sama sebanyak seratus kali; begitulah rasanya bagi siswa yang dipaksa mengerjakan soal aritmatika yang seragam tanpa henti. Pembelajaran rutin memang perlu untuk kelancaran (fluency), tetapi ia harus diposisikan sebagai "latihan tangga nada" bagi seorang pianis, bukan konser utamanya. Konser utamanya adalah ketika siswa menggunakan keterampilan tersebut untuk memecahkan masalah nyata yang menantang.
Pendekatan estetik ini juga membantu mengurangi math anxiety atau kecemasan matematika yang sering dimulai sejak sekolah dasar. Soal kontekstual yang berangkat dari hobi atau dunia anak (seperti skor dalam video game atau pembagian koleksi kartu) terasa lebih ramah dan tidak mengintimidasi dibandingkan deretan angka abstrak. Saat siswa merasa nyaman dan terlibat secara emosional dengan masalah yang diberikan, hambatan kognitif mereka akan menurun, sehingga kemampuan penalaran mereka dapat keluar dengan lebih optimal.
Sesuai dengan pandangan konstruktivisme yang dipelajari di tingkat pascasarjana, pengetahuan matematika harus dikonstruksi sendiri oleh siswa melalui pengalaman nyata. Guru berperan sebagai kurator masalah yang indah, yang memancing siswa untuk bertanya "bagaimana jika?" atau "mengapa begitu?". Misalnya, mengeksplorasi mengapa sarang lebah berbentuk heksagon adalah perjalanan literasi matematika yang jauh lebih berharga daripada sekadar menghitung luas segi enam menggunakan rumus yang sudah jadi. Di sinilah letak perbedaan antara pengajar rutin dan pendidik sejati.
Integrasi seni dan matematika (STEAM) menjadi salah satu cara efektif untuk membawa estetika ini ke dalam kelas SD. Proyek yang menggabungkan desain kreatif dengan perhitungan matematis membuat siswa melihat kegunaan praktis dari ilmu yang mereka pelajari. Hal ini sangat selaras dengan kerangka kerja PISA yang menghargai kreativitas dalam penyelesaian masalah. Jika siswa terbiasa melihat solusi matematika sebagai sebuah karya cipta, mereka akan lebih gigih dalam menghadapi soal-soal sulit yang membutuhkan ketekunan.
Sebagai simpulan, matematika tidak boleh lagi diajarkan sebagai dogma yang mati, melainkan sebagai ilmu yang hidup dan indah. Dengan membawa masalah kontekstual ke pusat pembelajaran, kita sedang memberikan napas baru bagi pendidikan dasar di Indonesia. Kita ingin anak-anak kita tidak hanya bisa menjawab soal, tetapi juga bisa mengagumi keajaiban logika yang ada di sekitar mereka. Keindahan matematika adalah hak setiap siswa, dan menyajikannya secara menarik adalah tugas suci bagi setiap pendidik yang ingin melihat bangsanya maju di panggung global.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah