Evaluasi Berbasis Kompetensi: Meninggalkan Standar Nilai Angka Hafalan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sistem
evaluasi pendidikan di tingkat sekolah dasar di Surabaya mulai secara berangsur
meninggalkan model ujian pilihan ganda yang cenderung hanya menguji daya ingat
jangka pendek, dan beralih ke penilaian portofolio serta unjuk kerja yang lebih
komprehensif. Perubahan besar ini didasarkan pada kritik tajam bahwa nilai
angka tinggi dalam ujian hafalan sering kali tidak mencerminkan kemampuan nyata
siswa dalam menghadapi serta menyelesaikan masalah di kehidupan sehari-hari.
Penilaian baru ini lebih menitikberatkan pada proses: bagaimana siswa
mengidentifikasi masalah, merancang strategi solusi, dan melakukan refleksi
atas proses yang mereka lalui, memberikan gambaran yang jauh lebih utuh tentang
kompetensi sejati siswa.
Penilaian portofolio
memungkinkan orang tua serta guru untuk melihat perkembangan logika dan
kreativitas anak dari waktu ke waktu melalui berbagai karya nyata yang
dihasilkan selama satu semester. Tidak ada lagi label kaku "pintar"
atau "bodoh" yang hanya didasarkan pada satu lembar kertas hasil
ujian akhir semester yang sering kali dipengaruhi oleh keberuntungan saat
menghafal. Sebaliknya, sistem evaluasi ini merayakan keberagaman cara berpikir
serta keunikan solusi yang ditawarkan oleh setiap anak sesuai dengan bakatnya
masing-masing. Data dari beberapa sekolah dasar percontohan menunjukkan bahwa
evaluasi berbasis kompetensi secara signifikan mengurangi tingkat stres
akademik pada anak dan secara bersamaan meningkatkan rasa percaya diri mereka
dalam bereksperimen.
Dalam sistem evaluasi
unjuk kerja, siswa diberikan tantangan nyata yang harus mereka pecahkan di
depan penguji, seperti merancang denah lingkungan yang aman atau
mempresentasikan analisis terhadap sebuah berita. Di sini, yang dinilai bukan
hanya ketepatan jawaban, melainkan kejernihan logika, kemampuan beradaptasi
saat solusi awal gagal, serta cara mereka mengomunikasikan ide. Penilaian
semacam ini memberikan umpan balik yang jauh lebih berguna bagi perkembangan
anak dibandingkan sekadar angka 0 sampai 100. Siswa belajar memahami bahwa
nilai yang sesungguhnya adalah proses pertumbuhan diri, bukan sekadar kompetisi
angka di rapor yang sering kali memicu kecurangan atau budaya mencontek.
Transformasi sistem
penilaian ini merupakan langkah paling radikal dalam upaya menghapus budaya
hafalan di Indonesia, karena secara aksiomatik, "apa yang diuji adalah apa
yang dipelajari". Jika sistem evaluasi tetap menuntut hafalan data statis,
maka guru dan siswa akan selalu terjebak dalam pola belajar yang sempit dan
membosankan demi sekadar lulus ujian. Dukungan kebijakan yang kuat dari
kementerian terkait sangat diperlukan untuk melegitimasi standar penilaian
non-angka ini ke dalam sistem administrasi pendidikan nasional secara
menyeluruh. Hanya dengan mengubah cara kita menilai kesuksesan seorang siswa,
kita bisa benar-benar mengubah cara mereka belajar dan memandang arti
pengetahuan bagi kehidupan mereka.
Selain itu, evaluasi
berbasis kompetensi juga lebih menghargai proses kolaborasi daripada sekadar
pencapaian individu yang soliter. Dalam banyak tugas pemecahan masalah, nilai
diberikan berdasarkan bagaimana seorang siswa mampu berkontribusi di dalam tim,
menghargai pendapat rekan, dan mencari titik temu solusi bersama. Ini sangat
selaras dengan kebutuhan dunia kerja masa depan yang sangat mementingkan kerja
tim dan kecerdasan interpersonal. Evaluasi tidak lagi memisahkan anak dari
teman-temannya, melainkan mengintegrasikan mereka dalam ekosistem belajar yang
suportif. Dengan demikian, sekolah dasar bukan lagi menjadi ajang "perang
angka", melainkan ruang tumbuh kembang bersama yang sehat secara
emosional.
Tantangan administratif
memang muncul, di mana guru membutuhkan waktu lebih banyak untuk memberikan
narasi evaluasi yang mendalam bagi setiap siswa. Namun, perkembangan teknologi
digital kini mulai membantu melalui aplikasi rapor berbasis portofolio yang
memudahkan pendokumentasian proses belajar anak secara otomatis. Orang tua
dapat melihat perkembangan anak melalui foto, video, dan rekaman presentasi
yang diunggah secara berkala, memberikan transparansi belajar yang jauh lebih
baik daripada rapor angka yang dingin. Teknologi menjadi alat pendukung yang
luar biasa dalam memanusiakan sistem evaluasi pendidikan kita, beralih dari
sekadar statistik menjadi cerita pertumbuhan manusia.
Sebagai kesimpulan,
evaluasi pendidikan harus mampu mencerminkan nilai-nilai luhur abad ke-21:
kreativitas, kolaborasi, dan ketajaman dalam memecahkan masalah kompleks.
Meninggalkan standar nilai angka hafalan adalah keputusan berani untuk mengakui
bahwa setiap anak memiliki keunikan intelektual yang tidak bisa diringkas dalam
satu variabel numerik saja. Dengan sistem penilaian yang lebih humanis dan
kompeten, kita sedang mendorong siswa untuk berani mengambil risiko belajar
tanpa takut akan hukuman nilai rendah. Mari kita fokus pada membangun kemampuan
anak untuk terus belajar (learn how to learn), karena itulah kompetensi
tertinggi yang akan menjamin kesuksesan mereka di dunia yang terus berubah.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah