Gap Literasi Digital Guru: Tantangan Pedagogis dalam Memandu STEM Berbasis AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kehadiran AI
dalam pembelajaran STEM di SD hanya akan menjadi perangkat mahal tanpa makna
jika guru sebagai nahkoda kelas tidak memiliki literasi digital yang memadai
untuk membimbingnya secara kritis. Pada tahun 2025, kesenjangan antara
kecepatan inovasi AI dan kemampuan adaptasi guru menjadi tantangan pedagogis
utama di Indonesia. Banyak guru merasa terintimidasi oleh asisten AI yang
tampak "lebih pintar" dalam menjawab pertanyaan teknis sains, padahal
peran guru tetap tak tergantikan dalam memberikan konteks nilai dan motivasi
belajar bagi siswa. Tantangan ini menuntut transformasi besar-besaran dalam
pola pengembangan profesi guru sekolah dasar menuju penguasaan teknologi yang
humanis.
Secara
teoretis, efektivitas integrasi AI sangat bergantung pada Technological
Pedagogical Content Knowledge (TPACK) guru. Guru tidak hanya harus tahu
cara menjalankan aplikasi AI, tetapi harus paham kapan teknologi tersebut
memperkuat konsep sains dan kapan teknologi tersebut justru mengalihkan fokus
siswa. Data lapangan menunjukkan bahwa guru yang memiliki kepercayaan diri
rendah dalam teknologi cenderung membiarkan siswa menggunakan AI tanpa arah,
yang justru menurunkan kualitas nalar kritis anak. Inilah mengapa program S2
Pendidikan Dasar Unesa menempatkan penguatan literasi AI bagi guru sebagai
agenda darurat guna memastikan teknologi digital ini benar-benar menjadi alat
bantu, bukan beban yang membingungkan proses mengajar.
Analisis
terhadap manajemen kelas menunjukkan bahwa guru yang kompeten secara digital
mampu mengubah "ancaman" AI menjadi peluang diskusi yang kaya.
Misalnya, saat AI memberikan jawaban sains yang kurang akurat, guru yang
literat akan menggunakan momen tersebut untuk mengajarkan literasi informasi
dan verifikasi data kepada siswa. Kemampuan ini melatih siswa untuk bersikap
skeptis secara sehat dan tidak memuja teknologi secara buta. Sekolah dasar
membutuhkan sosok guru yang berani mencoba, berani salah, dan terus belajar
berdampingan dengan siswanya dalam menaklukkan kompleksitas STEM di era baru.
Guru adalah nyawa dari setiap algoritma yang masuk ke ruang kelas.
Tantangan
ini juga berkaitan dengan manajemen waktu guru yang sudah sangat padat dengan
tugas administrasi. AI seharusnya hadir untuk meringankan beban tersebut, namun
pada tahap awal, proses belajar teknologi baru justru sering kali menambah
beban kerja. Pemerintah dan sekolah perlu memberikan waktu khusus bagi guru
untuk bereksperimen dengan AI STEM melalui komunitas praktisi atau kelompok
kerja guru (KKG) yang solid. Ketika guru merasa didukung dan memiliki komunitas
belajar yang aman, mereka akan lebih mudah terbuka terhadap inovasi teknologi.
Guru yang bahagia dan berdaya secara teknologi akan mampu menciptakan atmosfer
kelas STEM yang inspiratif bagi seluruh siswa.
Selain
itu, tantangan etika muncul ketika guru terlalu bergantung pada rekomendasi AI
dalam menilai potensi siswa. Ada risiko bias otomatisasi di mana guru menerima
begitu saja penilaian mesin tanpa melakukan observasi kemanusiaan yang
mendalam. Literasi digital guru harus mencakup pemahaman bahwa hasil analisis
data AI hanyalah salah satu indikator, bukan keputusan akhir tentang nasib
akademik anak. Guru tetap harus menjadi pihak yang memberikan dorongan moral
dan pengakuan atas perjuangan siswa yang mungkin tidak terekam dalam log data
aplikasi. Harmonisasi antara ketajaman analitik AI dan kepekaan hati guru
adalah kunci utama penguatan pendidikan dasar.
Sebagai
penutup, penguatan literasi digital guru adalah kunci utama keberhasilan
integrasi AI dalam pembelajaran STEM di Indonesia. Kita harus menyadari bahwa
teknologi paling canggih sekalipun tetap memerlukan sentuhan manusiawi guru
untuk menjadi ilmu yang bermanfaat. Mari kita dukung guru-guru kita untuk
menjadi pembelajar sepanjang hayat yang tangguh di era digital, demi melahirkan
generasi emas yang cerdas dan beradab. Investasi pada kapasitas guru adalah
investasi paling berharga dalam transformasi pendidikan nasional kita. Dengan
guru yang kompeten dan literat, AI akan menjadi jembatan cahaya menuju puncak
kejayaan pendidikan dasar Indonesia di mata dunia.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah