Generasi "Layar" vs Generasi "Kertas": Dampak Kognitif Ketimpangan Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — cara akses
informasi antara siswa SD di wilayah maju dan pedesaan mulai menunjukkan dampak
pada profil kognitif dan cara berpikir mereka. Siswa di lingkungan digital
terbiasa dengan pola pikir non-linear, pencarian informasi cepat, dan kemampuan
mengolah data multimedia, sementara siswa di daerah terpencil masih sangat
bergantung pada pola pikir linear berbasis teks cetak. Disparitas ini
menciptakan "digital kognitif gap" yang dapat memengaruhi cara mereka
memecahkan masalah di masa depan.
Studi psikologi
pendidikan menunjukkan bahwa paparan terhadap perangkat digital yang terarah
dapat meningkatkan kemampuan visual-spasial anak. Namun, ketika siswa di
pedesaan sama sekali tidak mendapatkan paparan ini, mereka kehilangan
kesempatan untuk melatih bagian otak yang krusial bagi pekerjaan di bidang
sains dan teknologi (STEM). Ini adalah kerugian talenta nasional yang sangat
besar jika dibiarkan terus berlanjut tanpa intervensi.
Namun, di sisi lain,
siswa "generasi kertas" seringkali memiliki daya tahan baca dan
kedalaman fokus yang lebih baik. Tantangan besar bagi pendidikan nasional
adalah bagaimana menggabungkan ketajaman analisis tradisional dengan kecepatan
teknologi digital secara merata. Literasi digital bukan berarti meninggalkan
buku, melainkan memperkaya cara siswa berinteraksi dengan ilmu pengetahuan.
Solusi yang ditawarkan
adalah pengembangan konten digital yang tetap mengasah kedalaman berpikir, yang
dapat diakses oleh siswa di pelosok melalui perangkat sederhana. Pemerintah
harus memastikan bahwa perbedaan media belajar tidak mengakibatkan perbedaan
kualitas intelektual. Integrasi teknologi harus dilakukan secara bijak agar
setiap anak Indonesia memiliki fleksibilitas kognitif untuk bertahan di era
yang terus berubah.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah