Generasi TikTok dan Kemampuan Membaca: Bagaimana Data PISA Menggambarkan Kondisinya?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Generasi yang tumbuh bersama TikTok dan platform sosial serupa sering disebut sebagai “generasi skrol” karena kebiasaan mereka dalam terus menggulir layar untuk menemukan konten yang menarik. Mereka terbiasa dengan informasi yang disajikan secara cepat, visual, dan dalam durasi yang singkat. Hal ini telah membentuk cara mereka belajar, berkomunikasi, dan menyerap pengetahuan, termasuk dalam hal kemampuan membaca.
Data dari PISA memberikan gambaran objektif tentang kondisi literasi membaca generasi muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada tahun-tahun terakhir, skor literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata global. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kemampuan dasar dalam membaca, namun kesulitan ketika dihadapkan pada teks yang kompleks yang membutuhkan analisis mendalam dan pemahaman kontekstual. Di Kota Malang sendiri, data lokal menunjukkan tren yang sejalan dengan kondisi nasional, dengan tantangan tambahan terkait dengan akses yang tidak merata terhadap sumber bacaan dan teknologi.
Hubungan antara penggunaan TikTok dan hasil literasi membaca menurut PISA tidak dapat dilihat sebagai hubungan sebab-akibat yang langsung. Namun, beberapa temuan menunjukkan adanya korelasi antara pola konsumsi konten digital dan kemampuan membaca. Siswa yang menghabiskan banyak waktu dengan konten skrol cepat cenderung memiliki kesulitan dalam fokus membaca teks panjang, mengidentifikasi ide utama, dan menghubungkan berbagai bagian dari sebuah teks—semua hal yang dinilai dalam PISA. Di sisi lain, siswa yang mampu mengimbangi penggunaan TikTok dengan aktivitas membaca buku atau teks panjang menunjukkan hasil yang lebih baik dalam penilaian tersebut.
Perlu diperhatikan bahwa generasi TikTok juga memiliki kelebihan dalam hal kemampuan literasi digital. Mereka cenderung lebih cepat dalam mengakses informasi, lebih terampil dalam menggunakan berbagai alat digital untuk mencari dan menyaring data, serta lebih terbuka terhadap konten dari berbagai sumber dan budaya. Kemampuan ini tidak diukur secara langsung dalam PISA, namun sangat penting untuk kehidupan di era digital. Hal ini menunjukkan bahwa ada aspek literasi yang tidak tercakup dalam standar global tersebut, meskipun kemampuan membaca mendalam tetap menjadi dasar yang krusial.
Data PISA
mengingatkan kita akan pentingnya tidak meninggalkan standar literasi membaca
yang kuat, sementara keberadaan TikTok mengingatkan kita akan perlunya
menyesuaikan pendekatan pendidikan dengan perkembangan zaman. Solusi yang ideal
adalah dengan mengembangkan program pendidikan yang dapat mengoptimalkan
kelebihan kedua sisi: menggunakan konten pendek seperti yang ada di TikTok
untuk membangkitkan minat membaca dan memperkenalkan topik baru, kemudian
membimbing siswa untuk mengeksplorasi topik tersebut lebih dalam melalui bacaan
yang sesuai dengan standar PISA. Dengan cara ini, generasi TikTok dapat
mengembangkan kemampuan membaca yang komprehensif dan siap menghadapi tantangan
masa depan.
###
Penulis: Ailsa
Widya Imamatuzzadah