Generasi Z di Era Digital: Ketekunan Belajar Terpengaruh Budaya Cepat Saji
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Generasi Z hidup di era di mana segala sesuatu tersedia dengan cepat dan mudah, mulai dari makanan cepat saji hingga informasi yang dapat diakses dengan satu sentuhan di layar ponsel. Budaya cepat saji ini telah secara signifikan mempengaruhi cara mereka belajar dan menghadapi proses pendidikan.
Ketekunan dalam belajar yang biasanya melibatkan waktu yang cukup untuk memahami materi, berlatih secara terus-menerus, dan menghadapi kesulitan dengan sabar, mulai tergeser oleh keinginan untuk mendapatkan hasil dalam waktu singkat. Di banyak sekolah di Surabaya, siswa generasi Z seringkali bertanya kepada guru tentang cara tercepat untuk memahami materi atau menyelesaikan tugas, daripada fokus pada proses pembelajaran yang mendalam.
Pengaruh budaya cepat saji juga terlihat dalam cara generasi Z mengkonsumsi informasi pembelajaran. Mereka lebih suka konten yang singkat, menarik, dan dapat diserap dengan cepat, seperti video pendek di platform berbagi konten atau ringkasan materi yang sudah disusun. Meskipun konten semacam itu dapat menjadi alat bantu yang baik, namun jika menjadi satu-satunya sumber belajar, akan membuat mereka kurang mampu mengembangkan kemampuan analisis dan pemikiran kritis yang dibutuhkan untuk menghadapi masalah yang kompleks.
Selain itu, budaya cepat saji juga membentuk persepsi generasi Z tentang kesuksesan. Banyak yang melihat kesuksesan sebagai sesuatu yang dapat dicapai dengan cepat dan mudah, seperti yang sering ditampilkan dalam konten media sosial. Hal ini membuat mereka kurang bersedia untuk melalui proses belajar yang panjang dan penuh tantangan, karena mereka merasa bahwa usaha yang terlalu banyak tidak sebanding dengan hasil yang akan diperoleh.
Meskipun demikian, era digital juga menawarkan banyak kesempatan untuk mendukung pembelajaran. Dengan cara yang tepat, teknologi dapat digunakan untuk membantu generasi Z mengembangkan ketekunan belajar, seperti melalui aplikasi pembelajaran yang dirancang untuk membangun konsistensi atau platform kolaboratif yang memungkinkan mereka untuk belajar dari orang lain dengan sabar. Yang penting adalah bagaimana kita dapat membantu mereka menemukan keseimbangan antara memanfaatkan kemudahan teknologi dan mempertahankan nilai-nilai ketekunan yang penting untuk pembelajaran yang efektif.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah