Guru di Persimpangan Digital: Antara Antusiasme dan Keterbatasan Sarana
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ketika
kurikulum nasional menuntut integrasi teknologi dalam setiap mata pelajaran,
para guru di sekolah dasar pedesaan menghadapi dilema profesional yang mendalam
akibat minimnya infrastruktur pendukung. Di wilayah pusat, tenaga pendidik
dengan mudah mengakses platform pelatihan mandiri dan sumber belajar digital,
sementara guru di pelosok harus merogoh kocek pribadi demi membeli kuota
internet hanya untuk mengunduh administrasi mengajar. Kondisi ini menciptakan
beban ganda yang memperlebar kesenjangan kualitas instruksional antara sekolah
di pusat kemajuan dengan sekolah di pinggiran.
Data menunjukkan bahwa
efektivitas transformasi digital sangat bergantung pada kesiapan sumber daya
manusia, bukan sekadar perangkat keras. Namun, pelatihan yang terpusat dan
sering kali bersifat daring menjadi tantangan tersendiri bagi guru yang berada di
daerah dengan sinyal internet tidak stabil. Tanpa bimbingan tatap muka atau
pendampingan teknis yang memadai, alat-alat digital bantuan pemerintah sering
kali tidak teroptimalkan dan hanya berakhir di dalam lemari sekolah.
Secara sosiologis,
kesenjangan ini juga memengaruhi wibawa intelektual guru di mata siswa yang
mungkin lebih terpapar informasi melalui ponsel pintar di luar sekolah. Di
pedesaan, guru harus berjuang menjaga relevansi materi ajar di tengah
keterbatasan referensi digital yang sahih. Sinkronisasi kebijakan antara
pengadaan barang dan pengembangan kompetensi guru mutlak diperlukan agar tidak
terjadi "gegar budaya" teknologi di ruang kelas.
Pemerintah perlu
mempertimbangkan program residensi teknologi, di mana ahli IT dikirim untuk
mendampingi sekolah-sekolah di pelosok secara berkala. Inisiatif ini akan
menjamin keberlanjutan operasional perangkat sekaligus memberikan kepercayaan
diri bagi para guru untuk berinovasi. Masa depan literasi digital siswa sangat
bergantung pada seberapa berdaya guru mereka dalam menjinakkan teknologi di
tengah segala keterbatasan yang ada.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah