Guru di Persimpangan: Tantangan Mengajar dalam Dua Dunia Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Guru-guru
sekolah dasar di Jawa Timur kini menghadapi tantangan profesional paling berat
dalam sejarah karir mereka: menyeimbangkan standar mutu belajar di tengah kelas
yang memiliki tingkat akses digital yang sangat heterogen. Dalam satu ruang
kelas yang sama, terdapat siswa yang sudah sangat mahir menggunakan tablet
canggih pemberian orang tuanya, sementara di bangku sebelah terdapat siswa yang
bahkan tidak memiliki akses internet sama sekali di rumahnya. Kondisi ini
memaksa para pendidik untuk bekerja dua kali lipat lebih keras dalam merancang
metode pembelajaran "hibrida" yang inklusif, agar tidak ada satupun
siswa yang merasa terasing atau rendah diri akibat perbedaan kepemilikan
teknologi.
Disparitas akses ini
menciptakan dilema metodologis yang nyata bagi guru saat hendak menerapkan
inovasi pembelajaran berbasis digital. Jika guru bergerak terlalu cepat
menggunakan platform interaktif mutakhir, siswa tanpa akses akan tertinggal dan
kehilangan motivasi belajar; namun jika guru tetap menggunakan metode ceramah
konvensional, siswa yang sudah mahir digital akan merasa bosan dan tidak
tertantang. Guru seolah berada di persimpangan jalan, mencoba menjembatani dua
dunia yang berbeda dalam satu waktu yang terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa
kesenjangan digital bukan hanya masalah bagi siswa, tetapi juga merupakan
krisis pedagogi yang menuntut fleksibilitas luar biasa dari seorang pendidik
tanpa adanya kompensasi waktu atau sumber daya yang memadai.
Dalam upaya menjaga mutu
belajar, banyak guru terpaksa menyiapkan dua jenis materi ajar yang berbeda:
versi digital yang interaktif untuk mereka yang mampu, dan versi cetak manual
untuk mereka yang terbatas aksesnya. Praktik ini, meski terlihat solutif, sebenarnya
sangat menguras energi guru dan sering kali tidak berkelanjutan dalam jangka
panjang. Selain itu, terdapat risiko ketidaksetaraan kualitas materi, di mana
versi digital seringkali jauh lebih menarik dan mudah dipahami dibandingkan
versi cetak yang statis. Kesenjangan mutu pun tetap terjadi di bawah pengawasan
guru yang sama, semata-mata karena perbedaan media penyampaian yang tidak bisa
dihindari akibat keterbatasan infrastruktur pendukung di rumah siswa
masing-masing.
Selain beban
administratif, guru juga harus berperan sebagai mediator sosial yang sensitif
terhadap potensi konflik atau kecemburuan sosial di kelas. Guru harus
memastikan bahwa penggunaan gawai di sekolah tidak menjadi ajang pamer kekayaan
yang dapat merusak mental siswa dari keluarga kurang mampu. Literasi emosional
kini menjadi kompetensi baru yang wajib dimiliki guru untuk meredam dampak
psikologis dari kesenjangan digital. Mereka harus mampu membangun narasi bahwa
kecerdasan tidak ditentukan oleh mahalnya merek perangkat, sebuah tugas yang
sangat sulit di tengah gempuran budaya gaya hidup digital yang sangat kuat di media
sosial anak-anak saat ini.
Pakar pendidikan
menekankan bahwa profesionalisme guru di era ini tidak lagi hanya diukur dari
penguasaan teknologi, melainkan dari kemampuan mereka untuk tetap adil dalam
memberikan perhatian. Tantangannya adalah banyak guru yang secara tidak sadar
lebih fokus pada siswa yang responsif secara digital karena kemudahan
komunikasi dan pengumpulan tugas. Siswa yang manual seringkali terpinggirkan
dari interaksi harian karena hambatan komunikasi logistik. Oleh karena itu,
diperlukan pelatihan khusus bagi guru mengenai manajemen kelas heterogen
digital, agar setiap siswa, terlepas dari apa yang mereka miliki di tas
sekolahnya, tetap mendapatkan hak akses intelektual yang setara dari gurunya.
Keterbatasan fasilitas
pendukung di sekolah negeri juga sering kali membuat guru harus menggunakan
perangkat pribadi mereka untuk membantu siswa yang tidak memiliki gawai.
Fenomena "guru nomaden" yang membawa laptop sendiri dari meja ke meja
untuk memberi kesempatan siswa praktik secara bergantian menjadi pemandangan
yang heroik sekaligus menyedihkan. Hal ini mencerminkan betapa besarnya beban
personal yang dipikul guru demi menutup lubang kesenjangan digital yang
seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Tanpa dukungan sarana prasarana yang
memadai di tingkat sekolah, guru akan terus mengalami kelelahan mental (burnout)
yang pada akhirnya akan menurunkan mutu pendidikan secara keseluruhan.
Sebagai penutup, guru
adalah benteng terakhir yang menjaga agar kesenjangan digital tidak berubah
menjadi diskriminasi akademik yang permanen. Kita harus mengapresiasi dan
mendukung para pendidik yang berjuang di persimpangan ini dengan memberikan
mereka alat, modul, dan dukungan moral yang tepat. Namun, tanggung jawab
menutup jurang digital tidak boleh diletakkan sepenuhnya di pundak guru. Perlu
ada kebijakan sistemik yang menjamin bahwa setiap ruang kelas memiliki standar
teknologi minimum yang setara, sehingga guru bisa fokus mengajar tanpa harus
terus-menerus mengkhawatirkan perbedaan perangkat siswa. Mutu belajar yang adil
hanya bisa dicapai jika guru memiliki alat yang sama untuk setiap anak yang
mereka bimbing.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah