Hari Ibu 2025: Peringatan “Perempuan Berdaya dan Berkarya” dalam Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Setiap tanggal 22 Desember, Indonesia memperingati Hari Ibu, dan pada tahun 2025 peringatan ini mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema tersebut menegaskan pengakuan negara terhadap peran strategis perempuan, khususnya ibu, dalam membangun keluarga yang kuat sekaligus berkontribusi pada pembangunan bangsa. Perempuan tidak hanya diposisikan sebagai pendamping, tetapi sebagai subjek aktif yang memiliki hak, kapasitas, dan peran penting dalam pendidikan, sosial, serta ekonomi masyarakat.
Dalam konteks pendidikan dasar, Hari Ibu menjadi momentum yang sangat relevan untuk menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa. Ibu sering kali menjadi figur utama yang mendampingi anak belajar di rumah, mulai dari membiasakan membaca, mengingatkan tugas sekolah, hingga memberikan dukungan emosional. Sekolah dasar dapat memanfaatkan momen ini untuk menegaskan bahwa pendidikan anak merupakan proses kolaboratif antara sekolah dan keluarga, bukan tanggung jawab satu pihak semata.
Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, seperti meminta siswa membuat cerita, gambar, atau presentasi sederhana tentang peran ibu dalam kehidupan belajar mereka. Melalui aktivitas ini, siswa diajak merefleksikan pengalaman nyata, bukan sekadar memahami konsep abstrak. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena bersumber dari kehidupan sehari-hari siswa sendiri, sekaligus memperkuat ikatan emosional antara anak dan keluarga.
Kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai sarana penanaman nilai karakter, seperti empati, rasa hormat, tanggung jawab, dan kerja sama. Anak belajar menghargai peran ibu tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik pertama dalam kehidupan mereka. Nilai-nilai ini sejalan dengan SDGs 5 (Kesetaraan Gender) yang menekankan pengakuan terhadap peran perempuan, serta SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) yang mendorong pendidikan berbasis nilai dan karakter.
Melalui pembelajaran ini, siswa memahami bahwa keberhasilan akademik tidak berdiri sendiri. Prestasi belajar dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang suportif, kebiasaan belajar yang dibentuk di rumah, serta perhatian dan pendampingan orang tua. Pemahaman ini membantu anak melihat pendidikan sebagai proses bersama, bukan hanya aktivitas di ruang kelas, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Dengan demikian, peringatan Hari Ibu tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi bagian dari strategi pembelajaran karakter di sekolah dasar. Nilai-nilai penghargaan terhadap perempuan, penguatan peran keluarga, dan kolaborasi pendidikan dapat diintegrasikan secara nyata dalam kurikulum. Pembelajaran karakter pun tidak hanya tertulis di buku pelajaran, melainkan tumbuh dari pengalaman keluarga yang autentik dan dekat dengan kehidupan siswa.
# # #
Penulis: Nabila Mutiara Febriyanti