Inovasi Poster Jalan: Gerakan Cilik Selamatkan Nyawa Dukung SDG 3
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Kesadaran akan keselamatan berkendara harus ditanamkan sejak dini.
Siswa sekolah dasar kini menjadi agen perubahan penting dalam menyebarkan pesan
keselamatan jalan. Mereka menggunakan teknologi penerjemah untuk memahami dan
menyebarkan poster keselamatan jalan global. Langkah kecil ini secara konkret
mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 3, yaitu Kehidupan
Sehat dan Sejahtera.
Proyek
unik di tingkat sekolah dasar ini bermula dari keprihatinan terhadap tingginya
angka kecelakaan lalu lintas. Guru dan murid bersama melihat berbagai poster
keselamatan jalan dari berbagai negara. Dengan memanfaatkan fitur terjemahan
daring, mereka mampu mengurai pesan penting dari bahasa Inggris, Spanyol,
bahkan Mandarin. Ini bukan sekadar latihan bahasa, tetapi upaya globalisasi
pesan untuk hidup aman.
Pesan
poster internasional yang diterjemahkan mencakup berbagai tema vital. Misalnya,
poster tentang penggunaan helm, bahaya bermain di jalan raya, dan pentingnya
menyeberang pada zebra cross. Anak anak dengan cepat mengadaptasi jargon
keselamatan dari seluruh dunia ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami.
Hasilnya adalah serangkaian poster lokal yang memiliki standar keamanan global.
Inisiatif
ini membuktikan bahwa anak usia sekolah dasar memiliki kapasitas luar biasa
untuk menyerap dan menerapkan pengetahuan kompleks. Mereka tidak hanya
menerjemahkan kata, tetapi juga makna budaya keselamatan yang mendalam. Dengan
melihat data kecelakaan global, mereka memahami bahwa isu ini adalah masalah
universal yang membutuhkan partisipasi semua pihak.
Proyek
penerjemahan poster ini menjadi jembatan antara pengetahuan kelas dan aksi
nyata di masyarakat. Setelah pesan diterjemahkan, para siswa berkreasi dengan
mendesain ulang poster tersebut. Mereka memilih warna yang cerah dan ilustrasi
yang menarik agar pesan keselamatan lebih mengena di hati teman sebaya dan
orang dewasa. Poster hasil karya mereka kini dipajang di lingkungan sekolah dan
area publik sekitar.
Dampak
dari gerakan ini terasa langsung. Siswa kini lebih disiplin saat berada di
sekitar jalan raya dan aktif mengingatkan orang tua atau tetangga tentang
pentingnya patuh rambu. Ini adalah bukti nyata bahwa literasi digital dan
pemahaman bahasa asing dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata demi
keselamatan. Mereka menjadi duta cilik yang secara proaktif menyuarakan
pentingnya mencegah kecelakaan.
Melihat
antusiasme dan hasil positif ini, proyek penerjemahan dan penyebarluasan pesan
keselamatan jalan layak untuk diadaptasi lebih luas. Generasi muda ini telah
menunjukkan bahwa dengan alat yang tepat, mereka tidak hanya menjadi penerima
informasi, tetapi juga produsen pesan yang berharga. Harapannya, semangat
globalisasi keselamatan jalan ini akan terus bergelora dan menjadi budaya
kolektif.
###
Penulis: Sevian Ageng Wahono