Inovasi Sastra: ChatGPT Sebagai Korektor dan Pengembang Plot Drama Adaptasi Cerita Rakyat SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Mempertahankan kekayaan budaya dan narasi lokal adalah bagian esensial dari SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), yang harus dimulai dari pendidikan dasar melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam upaya meningkatkan kreativitas sastra siswa SD, ChatGPT kini dimanfaatkan bukan hanya sebagai sumber informasi, tetapi sebagai asisten penulis sekaligus editor virtual yang membantu mengembangkan plot dan dialog untuk naskah drama adaptasi cerita rakyat daerah. Siswa didorong untuk memasukkan alur cerita dasar atau premis dari legenda lokal, kemudian meminta ChatGPT memberikan opsi plot twist, mengembangkan konflik yang lebih modern, atau menyarankan gaya bahasa yang lebih dramatis dan persuasif, sehingga menghasilkan sebuah karya sastra pertunjukan yang segar tanpa menggerus nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.
Penggunaan ChatGPT dalam kurikulum Bahasa Indonesia ini secara mendalam melatih kemampuan siswa dalam merevisi dan menyunting naskah. Setelah AI menyajikan berbagai variasi alur cerita dan dialog yang berpotensi menarik, siswa ditantang untuk berpikir kritis, memilih mana opsi yang paling sesuai dengan pesan moral yang ingin disampaikan, dan memilah-milah output yang terasa kaku atau kurang berjiwa. Mereka belajar bahwa teknologi adalah alat kolaborasi, di mana sentuhan humanis, emosi, dan kearifan lokal tetap menjadi penentu utama kualitas karya. Aktivitas ini mengubah peran siswa dari sekadar penerima cerita menjadi kreator aktif yang memiliki kendali penuh atas narasi budaya yang mereka sajikan, memastikan mereka menjadi pewaris budaya yang cakap teknologi.
Selain pengembangan plot, ChatGPT juga terbukti efektif dalam menyempurnakan aspek kebahasaan dan tata bahasa naskah drama yang dibuat siswa, sebuah elemen penting dalam pengajaran Bahasa Indonesia di SD. Siswa dapat meminta AI untuk memeriksa konsistensi penggunaan kata ganti, memperbaiki struktur kalimat yang masih rancu, atau bahkan menyarankan padanan kata yang lebih puitis dan indah untuk memperkuat ekspresi tokoh di atas panggung. Dengan demikian, siswa tidak hanya fokus pada isi cerita, tetapi juga pada kualitas presentasi linguistik naskah mereka. Hal ini secara signifikan meningkatkan standar literasi formal dan literasi seni mereka, membentuk fondasi berbahasa yang kuat untuk jenjang pendidikan selanjutnya.
Skenario drama yang dihasilkan dari kolaborasi antara kreativitas siswa dan bantuan ChatGPT ini kemudian dipentaskan dalam acara seni sekolah, mengubah pembelajaran teori Bahasa Indonesia menjadi praktik seni pertunjukan yang nyata. Pertunjukan ini berfungsi sebagai wadah untuk menyuarakan pesan-pesan moral dan nilai-nilai SDGs kepada komunitas sekolah, misalnya drama yang menyisipkan pesan tentang bahaya sampah (SDG 12) atau pentingnya musyawarah (SDG 16). Siswa belajar bahwa seni adalah media ampuh untuk pendidikan karakter dan penyebaran kesadaran sosial, memberikan dimensi makna yang lebih mendalam pada proses belajar mengajar.
Integrasi ChatGPT dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui proyek drama sastra adalah bukti nyata bahwa kecerdasan buatan dapat menjadi katalisator bagi revitalisasi budaya dan peningkatan kualitas pendidikan. Siswa SD belajar memadukan teknologi canggih dengan warisan budaya luhur, menciptakan karya seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga edukatif dan relevan dengan tantangan zaman. Inovasi ini memastikan bahwa generasi penerus memiliki keterampilan kreatif dan teknis untuk melestarikan identitas bangsa.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia