Instanisme di Balik Layar: Dilema Guru Menghadapi Tugas Siswa Berbasis AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Para guru di berbagai sekolah dasar
saat ini mulai mencurigai orisinalitas tugas rumah yang dikumpulkan siswa
menyusul gaya bahasa yang tiba-tiba berubah menjadi terlalu formal, sangat
terstruktur, dan melampaui kosakata anak seusianya. Fenomena "tutor
bayangan" berbasis AI ini menempatkan para pendidik pada posisi yang
sangat sulit; di satu sisi mereka ingin merayakan kemajuan teknologi yang
mempermudah akses informasi, namun di sisi lain mereka harus mengutuk hilangnya
autentisitas siswa dalam mengekspresikan pemikiran mereka sendiri. Isu ini
menjadi sangat krusial karena setiap tugas di tingkat sekolah dasar sebenarnya
bukan sekadar tentang mencari jawaban yang benar, melainkan tentang melatih
disiplin mental dan cara berpikir yang sistematis secara mandiri.
Secara teknis, kecerdasan
buatan dapat memberikan jawaban matematika yang rumit atau ringkasan cerita
dengan tata bahasa yang sempurna, namun ia sama sekali tidak bisa mengajarkan
nilai kegigihan atau grit yang sangat dibutuhkan anak. Ketika siswa SD
terbiasa mendapatkan bantuan instan tanpa perlu memutar otak sedikit pun,
ambang batas rasa frustrasi mereka terhadap tantangan intelektual yang sulit
akan menurun secara drastis dalam jangka pendek maupun panjang. Akibatnya,
muncul kecenderungan siswa menjadi manja secara kognitif; mereka lebih memilih
mencari jalan pintas melalui perintah suara ke ponsel pintar daripada mencoba
menguraikan masalah langkah demi langkah yang merupakan fondasi utama dari
literasi dan numerasi.
Dilema ini semakin
meruncing ketika orang tua juga ikut campur dengan memberikan akses AI secara
bebas kepada anak hanya demi melihat nilai rapor yang sempurna tanpa peduli
pada proses pemerolehan ilmu tersebut. Banyak orang tua yang merasa terbantu
karena tidak perlu lagi mendampingi anak belajar secara intensif, padahal
pendampingan orang tua memiliki dimensi emosional yang tidak akan pernah bisa
diberikan oleh tutor bayangan berbasis mesin. Efeknya adalah hilangnya
kedekatan intelektual antara orang tua dan anak, serta terciptanya standar
palsu mengenai kemampuan akademik anak yang sebenarnya masih membutuhkan banyak
bimbingan di tingkat dasar.
Sisi gelap lain dari
penggunaan AI dalam tugas sekolah adalah potensi terjadinya plagiarisme bawah
sadar sejak usia dini yang merusak integritas akademik masa depan. Siswa yang
merasa bahwa menggunakan AI "bukanlah mencontek" akan tumbuh dengan
pemahaman moral yang keliru mengenai orisinalitas sebuah karya dan hak kekayaan
intelektual. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena kejujuran akademik
seharusnya dipupuk sejak pertama kali seorang anak memegang pensil, bukan
setelah mereka dewasa dan sudah terlanjur terbiasa dengan budaya potong-tempel
informasi yang disediakan oleh algoritma cerdas.
Oleh karena itu,
sekolah-sekolah di bawah naungan kurikulum modern perlu segera merumuskan ulang
metode penilaian yang tidak hanya berbasis pada hasil akhir tulisan yang
dikumpulkan di rumah. Penilaian berbasis proses, seperti diskusi mendalam di
dalam kelas, tanya jawab lisan secara acak, hingga presentasi karya secara
spontan, kini menjadi satu-satunya cara paling ampuh untuk memverifikasi apakah
siswa benar-benar memahami materi yang mereka kumpulkan. Teknologi harus tetap
diposisikan sebagai "mitra berpikir" yang membantu memperluas
wawasan, bukan sebagai "pengganti otak" yang mengebiri kemampuan
analisis siswa secara perlahan namun pasti.
Para pengamat pendidikan
menyarankan agar guru mulai memberikan tugas yang bersifat reflektif dan sangat
spesifik berdasarkan kejadian unik di dalam kelas masing-masing yang tidak
tercatat dalam basis data internet manapun. Misalnya, meminta siswa menceritakan
kembali perasaan mereka saat mengikuti lomba di sekolah kemarin dengan sudut
pandang emosional yang personal, sesuatu yang hingga kini masih sulit ditiru
secara autentik oleh AI. Dengan cara ini, guru tetap bisa memberikan tantangan
yang relevan sekaligus menutup celah bagi penggunaan AI yang bersifat
memanjakan atau menipu proses evaluasi pendidikan yang objektif.
Sebagai kesimpulan yang
meyakinkan, integrasi AI dalam pendidikan dasar adalah pedang bermata dua yang
memerlukan keahlian guru dalam mengelolanya agar tidak menjadi senjata makan
tuan. Instanisme yang dibawa oleh teknologi tidak boleh dibiarkan menghancurkan
karakter ketekunan yang selama ini menjadi pilar pendidikan nasional kita yang
beradab. Mari kita dorong penggunaan AI yang bersifat eksploratif dan
membangkitkan rasa ingin tahu, namun tetap tegas dalam menjaga batas agar nalar
manusia tetap menjadi nakhoda utama dalam setiap proses belajar-mengajar yang
berlangsung di bangku sekolah dasar.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah