Integrasi Kurikulum: Menjadikan Gizi sebagai Mata Pelajaran Hidup
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kebijakan
Makan Siang Bergizi Gratis di tingkat SD yang diimplementasikan secara nasional
telah mendorong revisi kurikulum secara implisit, di mana kesehatan bukan lagi
sekadar bab kecil dalam buku olahraga. Melalui praktik langsung di meja makan
sekolah, literasi gizi kini menjadi mata pelajaran hidup yang paling relevan
bagi siswa. Setiap piring yang disajikan menjadi alat peraga untuk menjelaskan
konsep protein, lemak sehat, dan mikronutrien secara empiris dan menyenangkan
bagi anak-anak.
Metode pembelajaran ini
jauh lebih efektif dibandingkan sekadar menghafal istilah-istilah biologi di
dalam kelas yang kaku. Siswa diajak berdialog tentang asal-usul makanan mereka,
proses pengolahannya, hingga dampaknya bagi energi mereka saat bermain bola
atau belajar matematika. Pengalaman sensorik ini melihat, mencium, dan
merasakan memperkuat retensi informasi tentang kesehatan di memori jangka
panjang siswa.
Pentingnya peran guru
sebagai role model dalam program ini tidak dapat dikesampingkan. Saat
guru ikut makan bersama dengan menu yang sama, tercipta otoritas moral yang
kuat untuk mengajak siswa mencoba makanan sehat. Literasi gizi pun
bertransformasi menjadi budaya sekolah, di mana ada rasa malu kolektif jika
mengonsumsi makanan yang merusak kesehatan, yang pada akhirnya menurunkan tren
konsumsi minuman berpemanis di lingkungan sekolah.
Dari sudut pandang
pedagogi, intervensi ini juga melatih disiplin dan kemandirian anak. Mulai dari
mengantre dengan tertib, mengambil porsi secukupnya agar tidak mubazir, hingga
mencuci peralatan makan sendiri setelah selesai. Ini adalah pelajaran karakter
yang terintegrasi dengan pemenuhan kebutuhan biologis, menciptakan profil
pelajar Pancasila yang sehat fisik dan kuat pekerti.
Namun, tantangan muncul
dalam menyelaraskan pesan gizi di sekolah dengan realitas di kantin atau
pedagang di luar pagar sekolah. Di sinilah literasi gizi diuji: apakah siswa
tetap mampu memilih makanan sehat saat mereka tidak lagi berada di bawah
pengawasan program? Oleh karena itu, edukasi harus ditekankan pada kemampuan
pengambilan keputusan (decision making) siswa terhadap apa yang masuk ke
tubuh mereka.
Langkah inovatif ini
diharapkan dapat melahirkan generasi yang kritis terhadap industri pangan
olahan. Jika sejak SD mereka sudah memahami apa itu nutrisi seimbang, mereka
tidak akan mudah tertipu oleh pemasaran makanan yang tidak sehat di masa depan.
Pendidikan gizi adalah bentuk pertahanan diri terbaik yang bisa kita berikan
kepada anak-anak kita.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah