Integrasi Translate dan Seni Bahasa dalam Kegiatan Menulis Cerita
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Guru menggunakan fitur translate untuk membantu siswa memperluas kosakata saat menulis cerita pendek. Anak-anak diperbolehkan mencari arti kata tertentu untuk memperkaya deskripsi. Guru tetap mengingatkan bahwa penggunaan bahasa harus sesuai konteks. Siswa belajar menuliskan cerita dengan lebih detail dan imajinatif. Hasil tulisan mereka menjadi lebih variatif.
Kegiatan ini membantu siswa yang masih kesulitan menemukan kata yang tepat. Dengan bantuan teknologi, siswa dapat mengganti kata yang terlalu umum dengan kata lebih spesifik. Guru menuntun siswa agar tidak bergantung penuh pada terjemahan otomatis. Mereka diajarkan cara membaca ulang teks untuk mengecek kesesuaian. Proses ini melatih ketelitian dalam menulis.
Program ini selaras dengan SDGs terutama literasi berkualitas dan inovasi pembelajaran. Teknologi membuat kegiatan menulis lebih menarik bagi siswa. Guru melihat siswa semakin percaya diri mengekspresikan ide. Penggunaan translate terbukti memperkaya kemampuan literasi kreatif. Pembelajaran pun lebih adaptif terhadap perkembangan digital.
Sekolah menyediakan sesi membaca karya siswa untuk memberi pengalaman berbagi. Anak-anak belajar menghargai hasil karya teman-temannya. Guru memberikan umpan balik konstruktif mengenai penggunaan bahasa. Pengalaman ini meningkatkan kemampuan reflektif siswa. Lingkungan belajar yang suportif mempercepat perkembangan menulis mereka.
Orang tua juga senang melihat peningkatan minat menulis di rumah. Beberapa siswa bahkan membuat cerita tambahan di luar tugas sekolah. Guru berharap kebiasaan ini terus berkembang. Dengan dukungan rumah dan sekolah, literasi kreatif dapat tumbuh lebih kuat. Program ini menjadi salah satu inovasi yang paling diminati di kelas.
###
Penulis: Anisa Rahmawati