Integritas di Ujung Jari: Saat Orisinalitas Diuji oleh Layar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dunia anak hari ini tidak lagi hanya dibangun oleh pensil dan kertas, tetapi juga oleh sentuhan jari di layar yang selalu menyala. Dari sana, ide, gambar, dan jawaban hadir begitu cepat hingga batas antara milik sendiri dan milik orang lain terasa kabur. Integritas kemudian menjadi kata kunci yang sering terlupakan, padahal justru paling dibutuhkan. Orisinalitas bukan lagi soal mampu mencipta dari nol, melainkan soal kesadaran menghargai proses berpikir. Di ruang digital, segala sesuatu bisa disalin tanpa suara. Namun nilai di balik karya tidak pernah ikut terunduh. Di sinilah pendidikan karakter diuji secara halus.
Dalam keseharian, anak sering berhadapan dengan contoh instan. Sebuah video TikTok menampilkan cerita singkat, lalu versi serupa muncul dalam tugas tertulis. Tidak selalu ada niat meniru secara sengaja. Banyak yang menganggapnya sebagai bentuk belajar. Namun belajar dan menyalin memiliki batas yang tipis tetapi tegas. Ketika batas ini tidak dijelaskan, anak tumbuh dalam kebingungan. Ia merasa sudah berusaha, padahal hanya memindahkan. Proses berpikirnya tertinggal di belakang.
Media sosial mempercepat penyebaran pola tersebut dengan estetika yang menarik. Konten kreatif tampil ringkas, padat, dan mudah ditiru. Anak menyerap gaya, kata, bahkan ide tanpa sempat mengolah. Di satu sisi, ini memperkaya referensi. Di sisi lain, ia berpotensi mengerdilkan keberanian untuk berpikir sendiri. Ketika semua terlihat sudah ada, dorongan untuk mencipta melemah. Orisinalitas terasa tidak penting.
Mengajarkan integritas berarti mengajak anak memahami nilai di balik karya. Bahwa sebuah ide lahir dari proses, bukan dari kecepatan menyalin. Anak perlu diajak berdialog tentang bagaimana sebuah pemikiran terbentuk. Bukan sekadar apa hasil akhirnya. Dengan begitu, mereka belajar bahwa karya adalah cerminan diri. Bukan sekadar tugas yang harus selesai.
Di era digital, integritas tidak bisa diajarkan dengan larangan semata. Menutup akses justru membuat anak semakin penasaran. Yang dibutuhkan adalah literasi nilai yang kontekstual. Anak perlu memahami konsekuensi moral dari menyalin tanpa izin. Bukan melalui ancaman, tetapi melalui pemahaman. Ketika anak mengerti maknanya, kesadaran tumbuh dari dalam.
Orisinalitas juga perlu diposisikan sebagai proses yang boleh tidak sempurna. Anak sering meniru karena takut salah. Ketika kesalahan dianggap wajar, keberanian untuk mencoba meningkat. Integritas tumbuh saat anak merasa aman dengan idenya sendiri. Rasa aman ini lebih kuat daripada aturan tertulis. Di sinilah peran pendamping menjadi krusial.
Pada akhirnya, integritas di ujung jari adalah tentang pilihan kecil yang terus diulang. Memilih menulis dengan kata sendiri, meski sederhana. Memilih menyebut sumber, meski tidak diminta. Pilihan-pilihan ini membentuk karakter jangka panjang. Dunia digital mungkin cepat, tetapi nilai tidak boleh tergesa. Dari situlah orisinalitas menemukan tempatnya.
Penulis: Resinta Aini Z.