Integritas Konsep Sekolah Ramah Anak dalam Menghadapi Realitas Standar Capaian Kurikulum yang Rigid
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menakar integritas konsep sekolah ramah anak mengharuskan kita untuk berhadapan langsung dengan realitas standar capaian kurikulum yang sering kali bersifat rigid. Konsep ramah anak menuntut adanya lingkungan yang aman dan nyaman, namun tuntutan kurikulum memaksa guru untuk tetap menekan siswa. Benturan kepentingan ini menciptakan dilema bagi para pendidik yang ingin menerapkan pendekatan humanis di tengah sistem yang kaku. Integritas sekolah dipertanyakan ketika slogan yang diusung tidak selaras dengan tekanan akademik yang diberikan kepada para peserta didik. Sekolah ramah anak seharusnya bukan hanya sekadar label untuk mendapatkan akreditasi, melainkan prinsip dasar yang menjiwai seluruh proses pembelajaran. Jika kurikulum tetap bersifat membebani, maka konsep sekolah ramah anak hanyalah menjadi retorika tanpa substansi yang nyata di lapangan.
Rigiditas standar capaian kurikulum sering kali membuat kreativitas guru terbelenggu dalam metode pengajaran yang membosankan dan sangat menuntut. Target penuntasan materi yang luas dalam waktu yang terbatas memaksa pemberian pekerjaan rumah sebagai jalan pintas untuk mencapai sasaran. Akibatnya, anak-anak menjadi korban dari sistem yang lebih menghargai kuantitas informasi daripada kualitas pemahaman dan pengalaman belajar. Menakar integritas dalam konteks ini berarti mengevaluasi sejauh mana sekolah berani melakukan modifikasi kurikulum demi kepentingan terbaik anak. Keseimbangan antara tuntutan intelektual dan kebutuhan emosional siswa harus ditemukan agar proses belajar tidak berubah menjadi sebuah beban siber. Sekolah yang berintegritas adalah sekolah yang mampu memberikan perlindungan terhadap kesehatan mental siswanya di atas segala kepentingan administratif.
Tantangan bagi integritas sekolah juga muncul dari persaingan antarsekolah yang sering kali menggunakan nilai ujian sebagai standar tunggal mutu pendidikan. Persaingan ini mendorong pemberian beban belajar yang semakin berat kepada siswa sekolah dasar agar tidak tertinggal dari institusi lainnya. Dalam situasi seperti ini, konsep sekolah ramah anak sering kali terabaikan demi mengejar reputasi sekolah yang dianggap unggul secara akademik. Padahal, keunggulan sejati sebuah sekolah terletak pada kemampuannya membentuk karakter dan kebahagiaan siswa selama masa studinya. Kita harus bertanya kembali, apakah pencapaian nilai yang tinggi sepadan dengan tangisan dan stres yang dialami oleh anak-anak setiap harinya? Integritas menuntut kita untuk tetap konsisten dalam melindungi anak meskipun sistem di luar memberikan tekanan yang berbeda.
Diperlukan redefinisi mengenai standar capaian kurikulum yang lebih fleksibel dan berorientasi pada kompetensi dasar yang benar-benar esensial bagi kehidupan. Kurikulum yang ramah anak adalah kurikulum yang memberikan ruang bagi kegagalan sebagai bagian dari proses belajar yang wajar dan sehat. Integritas sekolah akan semakin kuat apabila guru diberikan kewenangan untuk menyesuaikan metode evaluasi berdasarkan kondisi keunikan setiap kelas. Penghapusan beban tugas yang tidak perlu akan memberikan ruang bernapas bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat alami mereka. Komunikasi yang jujur antara sekolah dan pengambil kebijakan sangat penting untuk menyelaraskan harapan dan kenyataan di dunia pendidikan. Hanya melalui integritas yang kokoh, konsep sekolah ramah anak dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masa depan pendidikan nasional.
Sebagai simpulan, menakar integritas konsep sekolah ramah anak adalah upaya untuk memastikan bahwa keadilan pedagogis benar-benar dirasakan oleh setiap siswa. Kita tidak boleh membiarkan standarisasi kurikulum yang kaku menghancurkan semangat dan kebahagiaan anak-anak dalam belajar di sekolah. Integritas sistem pendidikan nasional dipertaruhkan jika kita gagal menjembatani antara kebutuhan akademik dan kebutuhan psikologis peserta didik. Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat yang benar-benar melindungi hak anak tanpa terkecuali melalui kebijakan yang berani dan bijaksana. Masa depan bangsa Indonesia yang cerah bergantung pada generasi yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang adil dan sangat manusiawi. Akhirnya, sekolah ramah anak harus menjadi nyata melalui tindakan, bukan hanya melalui janji-janji tertulis yang hampa dari keberpihakan pada jiwa anak.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.