Jebakan Layar Sentuh: Saat Bisa Main Game Belum Tentu Paham Etika Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah
pesatnya perkembangan teknologi digital yang menawarkan kemudahan akses
informasi, banyak siswa sekolah dasar di Surabaya mulai terjebak dalam
kebiasaan buruk menggunakan fitur "salin-tempel" atau copy-paste
secara sembarangan saat menyelesaikan tugas-tugas sekolah mereka. Fenomena ini
terungkap pada Kamis pagi ketika sejumlah guru mulai mengidentifikasi adanya
kesamaan pola kalimat dan struktur jawaban yang identik antar siswa, yang
setelah ditelusuri ternyata bersumber dari situs web atau blog yang sama persis
tanpa adanya perubahan sedikit pun. Praktik ini menjadi alarm bagi dunia
pendidikan karena dianggap dapat mematikan daya imajinasi serta menghambat
perkembangan kemampuan berpikir kritis anak sejak usia yang sangat dini.
Penting bagi setiap siswa
untuk memahami bahwa setiap untaian kata yang mereka temukan di internet
merupakan hasil pemikiran, penelitian, dan kerja keras seseorang yang harus
dihormati sebagai sebuah hak cipta yang sah. Mengambil karya orang lain tanpa izin
atau tanpa mencantumkan sumber aslinya bukan hanya sekadar pelanggaran etika
akademik untuk mendapatkan nilai, melainkan sebuah tindakan yang mencerminkan
hilangnya rasa menghargai terhadap proses kreatif yang dilalui oleh orang lain.
Jika kebiasaan mengambil jalan pintas ini terus dibiarkan tanpa adanya teguran,
dikhawatirkan generasi masa depan akan kehilangan kemampuan untuk menciptakan
solusi orisinal atas masalah-masalah yang mereka hadapi.
Berdasarkan data yang
dihimpun dari berbagai observasi pendidikan, ditemukan fakta menarik bahwa
siswa yang terbiasa jujur dan berusaha merangkai kalimatnya sendiri memiliki
daya ingat serta pemahaman materi yang jauh lebih kuat dibandingkan mereka yang
hanya mengandalkan mesin pencari. Proses mentransformasi informasi dari buku
atau internet menjadi kalimat baru di dalam otak sebenarnya adalah latihan
kognitif yang sangat hebat untuk meningkatkan kecerdasan dan memperluas kosa
kata. Sebaliknya, tindakan menduplikasi teks secara instan hanya akan membuat
informasi tersebut lewat begitu saja di dalam pikiran tanpa meninggalkan
pemahaman yang mendalam atau manfaat edukatif yang nyata.
Bayangkan jika suatu hari
nanti kamu berhasil menciptakan sebuah karya hebat, seperti sebuah lukisan
indah atau sebuah cerita pendek yang menarik, namun kemudian ada orang lain
yang mengambil karya tersebut dan mengakuinya sebagai miliknya sendiri tanpa rasa
bersalah sedikit pun. Perasaan kecewa dan sedih yang mungkin kamu rasakan
adalah gambaran mengapa kita harus sangat menghargai orisinalitas dalam setiap
tugas yang kita kerjakan di sekolah maupun di rumah. Menghargai karya orang
lain adalah bentuk sopan santun digital yang harus kita junjung tinggi sebagai
bagian dari warga dunia maya yang cerdas, bertanggung jawab, dan memiliki etika
yang baik.
Dalam upaya melawan tren
plagiarisme ini, kita semua diajak untuk mulai berperan sebagai "Detektif
Cilik" yang tidak hanya bertugas mencari informasi sebanyak mungkin,
tetapi juga sangat bangga jika mampu menyampaikan informasi tersebut dengan gaya
bahasa sendiri yang unik. Seorang detektif sejati akan selalu teliti dalam
membedakan mana yang merupakan fakta umum dan mana yang merupakan pendapat
orisinal orang lain yang perlu kita hargai keberadaannya. Dengan melatih diri
untuk menulis secara mandiri, kita sebenarnya sedang membangun identitas diri
yang kuat dan menunjukkan kepada dunia bahwa kita memiliki pemikiran yang
mandiri dan tidak mudah didikte.
Orisinalitas adalah
sebuah mahkota yang sangat berharga bagi setiap pelajar yang memiliki cita-cita
besar untuk maju dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas di masa
depan. Kejujuran yang kita tanamkan di ujung jari kita hari ini saat mengetik
tugas adalah langkah awal yang sangat krusial untuk membentuk karakter pemimpin
yang jujur, berintegritas, dan dipercaya oleh banyak orang. Jangan pernah takut
untuk memulai dengan kalimat yang sederhana atau struktur yang belum sempurna,
karena proses belajar yang jujur jauh lebih mulia daripada hasil yang terlihat
sempurna namun didapatkan dari cara-cara yang tidak benar.
Oleh karena itu, sebelum
jari-jari kita menekan tombol "salin" di atas layar perangkat
digital, mari kita berhenti sejenak dan bertanya kepada hati nurani kita:
"Apakah aku ingin dikenal sebagai peniru atau sebagai pencipta?".
Mari kita jadikan nilai integritas sebagai kebiasaan baru yang membanggakan di
lingkungan sekolah kita, agar kita tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya
pintar secara teknologi, tetapi juga luhur secara pekerti. Dengan menjaga
orisinalitas, kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang
inovatif dan selalu siap menghadapi tantangan zaman dengan pemikiran-pemikiran
yang segar dan orisinal.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah