Kamus Cilik Dunia: Siswa Sekolah Dasar Susun Pedoman Hak Anak Berbasis Artikel Internasional
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Pengenalan terhadap hak hak dasar adalah bekal penting untuk
membentuk generasi yang berani dan bertanggung jawab. Siswa sekolah dasar kini
berinisiatif menyusun mini kamus tentang hak anak, merujuk pada artikel artikel
internasional yang mereka terjemahkan secara mandiri. Upaya inovatif ini
memastikan anak anak memahami hak mereka secara komprehensif dari perspektif
global. Program ini sangat mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas.
Mini
kamus ini bukan sekadar daftar istilah, melainkan rangkuman konsep hak yang
disajikan dengan bahasa yang ramah anak. Anak anak menerjemahkan dan
menyederhanakan jargon hukum internasional seperti “non diskriminasi,” “partisipasi
aktif,” dan “perlindungan dari eksploitasi.” Dengan bantuan fitur terjemahan,
mereka mampu mengubah teks yang formal menjadi pemahaman yang nyata dan dapat
diaplikasikan.
Proyek
ini bertujuan utama untuk memberdayakan siswa agar mereka tahu apa yang
seharusnya mereka terima dan apa yang bisa mereka suarakan. Mereka menemukan
bahwa hak atas pendidikan berkualitas, yang menjadi fokus SDGs 4, mencakup
akses ke informasi yang beragam dan lingkungan belajar yang aman. Pemahaman ini
mendorong mereka untuk lebih menghargai proses pembelajaran dan fasilitas yang
tersedia.
Aktivitas
menyusun mini kamus ini telah melahirkan diskusi mendalam di antara siswa
tentang penerapan hak dalam kehidupan sehari hari. Mereka mulai menganalisis,
misalnya, apakah hak bermain mereka sudah terpenuhi atau bagaimana mereka bisa
memastikan teman sekelasnya juga mendapatkan hak untuk didengar. Kamus ini
menjadi alat untuk mengukur keadilan dan kesetaraan di lingkungan sekolah dan
rumah.
Dampak
dari penguasaan konsep hak anak global ini terlihat jelas pada peningkatan rasa
percaya diri dan kepedulian sosial. Siswa yang paham haknya cenderung lebih
berani menyuarakan pendapat dan membela teman yang mengalami ketidakadilan.
Mereka menjadi duta cilik yang memastikan bahwa prinsip prinsip konvensi hak
anak diterapkan, mulai dari rumah hingga ke taman bermain.
Jelas
bahwa penggunaan terjemahan untuk memahami dokumen hak anak internasional
adalah metode yang efektif untuk menanamkan nilai nilai universal sejak dini.
Mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga menginternalisasi pentingnya
keadilan dan kesetaraan bagi semua. Harapannya, mini kamus ini akan terus
menjadi pedoman, membentuk generasi yang menghormati hak dan berjuang untuk
mewujudkan pendidikan yang inklusif.
###
Penulis: Sevian Ageng Wahono