Kamus Emosi Cilik: Membangun Kekuatan Karakter Lewat Kosakata Perasaan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Kecerdasan emosional adalah fondasi penting bagi perkembangan
karakter dan interaksi sosial anak. Murid sekolah dasar kini diajak menyusun
daftar istilah emosi yang kaya untuk mendukung pengenalan diri. Inisiatif ini
membantu anak mengidentifikasi dan mengelola perasaan mereka dengan lebih baik
dan tepat. Program peningkatan diri ini sangat mendukung Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (SDGs) poin 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Proyek
ini bermula dari pemikiran bahwa seringkali anak hanya mengenal kata dasar
seperti “senang” atau “sedih.” Mereka diajak menjelajahi nuansa perasaan
melalui istilah yang lebih spesifik, seperti “frustrasi,” “terharu,” “bersemangat,”
atau “cemas.” Kekayaan kosakata ini menjadi alat penting untuk mengungkapkan
gejolak hati dengan lebih akurat.
Penyusunan
kamus emosi ini dilakukan melalui berbagai sumber, termasuk cerita, lagu anak,
dan interaksi sehari hari. Siswa diajak mencatat dan mendefinisikan setiap
istilah baru yang mereka temukan, lalu mengaitkannya dengan situasi yang pernah
dialami. Hal ini menjadikan proses belajar tentang perasaan terasa sangat
personal dan relevan bagi kehidupan mereka.
Inovasi
ini menciptakan lingkungan sekolah yang lebih suportif dan terbuka terhadap
ekspresi perasaan. Ketika seorang anak mampu mengatakan, “Saya merasa frustrasi
karena pekerjaan saya tidak berhasil,” bukan hanya “Saya marah,” maka
penyelesaian masalah menjadi lebih mudah. Guru dan teman pun dapat memberikan
respon yang lebih tepat karena memahami akar emosi tersebut.
Penguasaan
kosakata emosi ini juga berdampak signifikan pada kemampuan bersosialisasi dan
berempati. Anak anak yang mampu mengenali perasaannya sendiri cenderung lebih
mudah memahami perasaan orang lain. Kekayaan istilah emosi telah melatih
mereka menjadi pendengar yang lebih baik dan teman yang lebih suportif.
Dengan
adanya kamus emosi pribadi ini, siswa diajarkan bahwa semua perasaan adalah
valid dan penting untuk diakui. Mereka belajar bahwa perasaan negatif seperti “kesal”
atau “khawatir” bukanlah hal yang buruk, tetapi sinyal yang harus dipahami dan
dikelola. Ini adalah langkah awal yang krusial menuju kemandirian emosional di
masa depan.
Jelas
bahwa membangun kekayaan kosakata emosi pada usia dini adalah investasi jangka
panjang untuk mental yang kuat. Generasi ini dipersiapkan untuk menghadapi
kompleksitas kehidupan dengan bekal keterampilan regulasi diri yang andal.
Mereka akan terus menggunakan kamus batin ini untuk menavigasi interaksi
sosial dan mencapai kesejahteraan psikologis.
###
Penulis: Sevian Ageng Wahono