Kecerdasan Buatan di Ruang Kelas: Dari Ancaman Jadi Mitra Pendidikan
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pada awal kemunculannya, kecerdasan buatan sering dianggap sebagai ancaman bagi dunia pendidikan, terutama terkait dengan kemungkinan menggantikan peran guru dan mengurangi nilai sentuhan manusia dalam pembelajaran. Banyak orang khawatir bahwa penggunaan teknologi ini akan membuat proses pendidikan menjadi lebih mekanis dan kurang memperhatikan perkembangan karakter siswa. Namun seiring dengan berkembangnya pemahaman dan teknologi yang lebih canggih, pandangan tersebut mulai bergeser secara signifikan.
Perubahan persepsi ini tidak terlepas dari berbagai inovasi AI yang dirancang khusus untuk mendukung proses pendidikan. Sistem AI saat ini tidak hanya mampu memberikan materi pembelajaran, tetapi juga dapat mengenali emosi siswa selama proses belajar, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan membantu guru dalam merancang strategi pengajaran yang lebih baik. Di beberapa sekolah di Jawa Timur, penerapan teknologi ini telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Salah satu contoh nyata peran AI sebagai mitra pendidikan adalah dalam pembelajaran bahasa asing. Aplikasi berbasis AI dapat memberikan latihan berbicara dengan pelafalan yang akurat, memberikan koreksi secara langsung, dan menyesuaikan tingkat kesulitan sesuai dengan kemampuan siswa. Hal ini memungkinkan siswa untuk berlatih dengan lebih percaya diri tanpa merasa khawatir akan kesalahan yang mungkin mereka buat saat berlatih di depan teman sekelas.
Selain itu, AI juga berperan penting dalam membantu siswa dengan kebutuhan khusus mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Sistem yang dilengkapi dengan teknologi pengenalan wajah, ucapan, dan gerakan dapat memberikan dukungan yang personal bagi siswa tunanetra, tuna rungu, atau tunagrahita. Di Surabaya, beberapa sekolah inklusif telah mengadopsi teknologi ini dan melihat peningkatan signifikan dalam kemampuan dan kepercayaan diri siswa dengan kebutuhan khusus tersebut.
Masa depan kecerdasan buatan di ruang kelas sangat menjanjikan, namun perlu dijalankan dengan prinsip bahwa teknologi ini adalah alat bantu, bukan pengganti guru. Kolaborasi yang baik antara guru dan AI akan menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih dinamis, personal, dan efektif. Dengan demikian, AI dapat benar-benar bertransformasi dari ancaman menjadi mitra yang berharga dalam mengembangkan sistem pendidikan yang lebih baik untuk generasi mendatang.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah