Kecerdasan Buatan Dorong Diskusi Makna Niat Buka Puasa di Kela
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perkembangan kecerdasan buatan membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Guru mulai memanfaatkan teknologi ini untuk mendukung pembelajaran yang bersifat reflektif, termasuk dalam pembahasan niat buka puasa. Siswa tidak hanya diajak menghafal niat, tetapi juga memahami makna dan tujuannya. Pendekatan ini membuat pembelajaran agama menjadi lebih hidup dan bermakna. Diskusi kelas menjadi ruang bagi siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Proses belajar tidak lagi bersifat satu arah.
Dalam praktiknya, guru mengarahkan siswa untuk menyusun pertanyaan seputar niat dan maknanya. Teknologi kecerdasan buatan digunakan sebagai pemantik diskusi awal. Jawaban yang diperoleh kemudian dibahas dan dikritisi bersama. Siswa belajar bahwa informasi digital perlu dipahami secara mendalam. Kemampuan berpikir kritis dan analitis pun berkembang. Pembelajaran menjadi lebih aktif dan dialogis.
Penggunaan teknologi ini juga meningkatkan minat belajar siswa. Mereka merasa pembelajaran relevan dengan perkembangan zaman. Teknologi yang sebelumnya hanya digunakan untuk hiburan kini dimanfaatkan untuk kegiatan edukatif. Guru berperan penting dalam mengarahkan penggunaan teknologi agar tetap sesuai dengan nilai pendidikan. Pendampingan ini memastikan pembelajaran tetap terkontrol. Nilai religius tetap menjadi fokus utama.
Selain itu, pembelajaran berbasis diskusi membantu siswa memahami bahwa niat bukan sekadar ucapan. Niat dipahami sebagai kesadaran dan komitmen dalam menjalankan ibadah. Siswa diajak mengaitkan konsep niat dengan sikap disiplin dan tanggung jawab. Nilai ini relevan dengan kehidupan sehari-hari di sekolah dan di rumah. Pendidikan karakter pun terintegrasi secara alami. Pembelajaran agama menjadi lebih kontekstual.
Dengan demikian, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pembelajaran niat buka puasa menunjukkan potensi besar teknologi dalam dunia pendidikan. Teknologi tidak menggantikan peran guru, melainkan memperkuat proses pembelajaran. Guru tetap menjadi fasilitator utama yang menanamkan nilai. Inovasi ini menunjukkan bahwa pendidikan agama dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pembelajaran menjadi relevan, reflektif, dan bermakna.
###
Penulis: Anisa Rahmawati