Kedaulatan Berpikir: Melatih Logika dan Retorika Sejak Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menjelang
penutupan bulan Januari, komunitas literasi dan akademisi di Surabaya
menyelenggarakan lokakarya intensif mengenai pentingnya pengajaran dasar-dasar
logika dan retorika bagi siswa sekolah dasar. Di tengah era manipulasi
algoritma dan banjir propaganda digital yang kian liar, kemampuan untuk
berpikir jernih dan menyatakan pendapat secara persuasif adalah bentuk
kedaulatan diri yang mutlak diperlukan. Pendidikan yang kita wariskan haruslah
yang mampu memerdekakan pikiran, bukan yang menciptakan generasi penurut yang
pasif dan mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang menyesatkan. Refleksi
ini mendorong sekolah-sekolah untuk menghidupkan kembali budaya debat santun
dan diskusi terbuka di dalam kelas guna melatih siswa menguji argumen dan
mencari kebenaran secara mandiri.
Secara filosofis, logika
adalah alat navigasi utama dalam samudra ketidakpastian informasi di abad
digital ini. Siswa sekolah dasar perlu mulai diajarkan cara mengenali sesat
pikir (logical fallacies) sederhana serta cara membangun argumen yang
didukung oleh data dan bukti nyata, bukan sekadar opini emosional. Warisan
pendidikan ini akan membentuk karakter warga negara yang kritis, yang tidak
mudah terprovokasi oleh berita bohong (hoax) atau ujaran kebencian di
media sosial. Retorika, di sisi lain, melatih mereka untuk berkomunikasi secara
efektif, menghargai keberagaman pendapat, dan mencari konsensus melalui dialog
yang bermartabat. Kemampuan ini adalah fondasi demokrasi yang sehat yang harus
disemai sejak dini agar tetap lestari di masa depan bangsa.
Guru di sekolah dasar
berperan krusial sebagai moderator yang memantik rasa penasaran siswa, bukan
lagi sebagai otoritas tunggal yang kebenarannya tak boleh dibantah. Ketika
seorang siswa memiliki keberanian untuk bertanya "mengapa demikian?"
atau "bagaimana jika sebaliknya?", itulah tanda awal keberhasilan
pendidikan logika yang memerdekakan nalar. Akhir Januari ini harus menjadi
momentum bagi kita untuk merevitalisasi perpustakaan sekolah sebagai pusat
riset bagi siswa, tempat di mana mereka belajar mencari referensi yang valid
dan membandingkan berbagai perspektif. Dengan mewariskan kedaulatan berpikir,
kita sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki prinsip kuat
dan tidak mudah goyah oleh desakan opini publik yang sering kali dangkal dan
transaksional.
Melatih logika sejak dini
juga membantu anak dalam memecahkan masalah matematika dan sains dengan cara
yang lebih sistematis dan analitis. Mereka tidak lagi sekadar menghafal rumus,
tetapi memahami struktur penalaran di balik solusi tersebut, yang merupakan
inti dari keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills).
Retorika yang baik juga mengasah kemampuan empati, karena untuk meyakinkan
orang lain, siswa harus terlebih dahulu memahami sudut pandang dan perasaan
lawan bicaranya. Kombinasi antara nalar yang tajam dan cara penyampaian yang
humanis akan menghasilkan individu yang memiliki daya tawar tinggi di dunia
profesional global yang menghargai kemampuan negosiasi dan kepemimpinan yang
etis.
Data lapangan menunjukkan
bahwa siswa yang terbiasa berdiskusi dan berpendapat secara logis memiliki
kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam menghadapi perundungan, karena mereka
mampu membela diri secara verbal dengan argumen yang kuat. Pendidikan kedaulatan
berpikir adalah bentuk perlindungan diri terhadap segala bentuk dominasi
intelektual dan manipulasi psikologis. Di era AI, di mana mesin dapat
menghasilkan teks dengan cepat, kemampuan manusia untuk melakukan evaluasi
kritis terhadap kebenaran suatu klaim menjadi aset yang tak ternilai harganya.
Kita sedang mendidik generasi yang tidak hanya mahir membaca teks, tetapi mahir
"membaca dunia" dengan segala kerumitan di dalamnya melalui kacamata
logika yang jernih.
Tantangan bagi sistem
pendidikan saat ini adalah bagaimana menyusun kurikulum logika yang tidak
membosankan dan sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif anak usia 7-12
tahun. Pendekatan berbasis cerita detektif atau teka-teki logika dapat menjadi
sarana yang efektif untuk merangsang otak anak agar terus bekerja secara
deduktif dan induktif. Warisan kedaulatan berpikir ini akan membuat anak-anak
kita tumbuh menjadi pribadi yang merdeka, yang tidak bisa didikte oleh ideologi
yang sempit atau kepentingan sesaat. Indonesia membutuhkan rakyat yang cerdas
secara mandiri untuk menjaga kedaulatan nasionalnya di tengah arus globalisasi
yang sering kali mengaburkan batas antara fakta dan fiksi demi kepentingan
tertentu.
Sebagai penutup,
kedaulatan berpikir adalah mahkota dari pendidikan dasar yang memerdekakan jiwa
dan raga. Akhir Januari 2026 ini memberikan pesan kuat bahwa kita harus
berhenti mendidik anak-anak untuk sekadar menjadi penghafal yang patuh,
melainkan menjadi pemikir yang tangguh. Mari kita wariskan keberanian untuk
bertanya dan ketajaman untuk menganalisis agar mereka tidak tersesat di tengah
hutan informasi digital. Warisan logika dan retorika adalah warisan peradaban
yang akan menjaga martabat kemanusiaan di masa depan. Dengan nalar yang
berdaulat, setiap anak Indonesia akan mampu menentukan arah hidupnya sendiri
dengan penuh integritas dan keberanian intelektual yang tinggi demi kejayaan
bangsa Indonesia.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah