Kendala Akurasi Translate dalam Memahami Teks Global bagi Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fitur translate sering dianggap sebagai jembatan untuk mengenalkan anak pada teks global, tetapi kenyataannya tidak selalu sederhana. Sistem terjemahan otomatis masih sering menghasilkan kalimat yang kurang tepat, terutama jika teks mengandung nuansa budaya atau istilah khusus. Bagi siswa SD yang masih belajar memahami struktur bahasa dasar, kesalahan terjemahan ini dapat membingungkan. Mereka bisa saja menelan bulat-bulat hasil terjemahan tanpa menyadari kekeliruannya. Situasi ini dapat menurunkan kualitas pemahaman membaca.
Dalam dunia pendidikan dasar, keakuratan bahasa sangat penting karena anak sedang berada pada masa pembentukan konsep. Ketika anak membaca hasil terjemahan yang tidak konsisten, mereka berpotensi membangun konsep bahasa yang keliru. Kesalahan semacam ini dapat memengaruhi kemampuan menulis dan berbicara dalam jangka panjang. Oleh karena itu, guru perlu berhati-hati ketika meminta siswa membaca teks yang diterjemahkan otomatis. Pendampingan diperlukan agar anak tidak salah menafsirkan isi bacaan.
Kesalahan terjemahan juga dapat mengaburkan konteks budaya dari teks yang sedang dipelajari. Misalnya cerita rakyat, deskripsi makanan tradisional, atau kebiasaan sosial dari negara lain sering kali memiliki makna yang tidak dapat diterjemahkan secara langsung. Ketika aplikasi translate tidak mampu menangkap konteks ini, pesan budaya menjadi hilang. Hal ini membuat proses belajar lintas budaya tidak berjalan optimal. Padahal teks global sebenarnya dapat memperkaya wawasan siswa tentang keberagaman dunia.
Guru dapat mengatasi kendala ini dengan menjadikan translate sebagai alat diskusi, bukan hasil final. Misalnya, guru dapat mengajak siswa membandingkan hasil terjemahan dengan konteks aslinya atau mencoba memperbaiki kalimat secara bersama-sama. Aktivitas ini justru dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan language awareness. Siswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar memahami bahwa teknologi memiliki keterbatasan. Latihan semacam ini juga membantu menumbuhkan kebiasaan memeriksa ulang informasi digital.
Bagi orang tua, penting memberikan pemahaman bahwa menggunakan translate membutuhkan pendampingan. Dorongan untuk membaca teks asli sederhana dan membahasnya bersama anak dapat menjadi strategi yang lebih kaya nilai. Selain membantu melatih literasi dasar, aktivitas ini memperkuat ikatan komunikasi antara orang tua dan anak. Pada akhirnya, tantangan akurasi translate bukanlah hambatan mutlak, tetapi peluang untuk mengajarkan anak berpikir cermat dalam menggunakan informasi digital. Dengan bimbingan yang tepat, teknologi tetap dapat mendukung perkembangan literasi global anak.###
Penulis: Arumita Wulan Sari
Dokumentasi: Google