Kesehatan Mental Guru: Aspek Terlupakan dalam Pemulihan Pendidikan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Kesehatan mental guru jarang menjadi fokus pembahasan, padahal merekalah garda depan pendidikan dalam situasi krisis. Setelah bencana di Aceh dan Sumut, banyak guru harus mengajar sambil menanggung beban emosional karena kehilangan rumah atau keluarga. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pengajaran di kelas. Guru yang tidak stabil emosinya sulit memberikan dukungan penuh kepada siswa. Sayangnya, sistem pendidikan sering mengabaikan kebutuhan kesehatan mental pendidik.
Beban kerja guru meningkat drastis pascabencana, mulai dari pendataan siswa, penjadwalan ulang, hingga menciptakan suasana kelas yang kondusif. Tekanan ini menumpuk jika fasilitas sekolah rusak atau tidak lengkap. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai relawan, konselor, dan bahkan penggerak komunitas. Peran multipel ini membuat mereka rentan stres dan kelelahan emosional. Tanpa dukungan memadai, guru berada pada risiko burnout serius.
Pemulihan psikologis guru perlu menjadi bagian dari kebijakan pendidikan yang lebih luas. Pelatihan psychological first aid, konseling kelompok, dan ruang refleksi sangat membantu mengurangi beban mental. Selain itu, pendampingan jangka panjang diperlukan untuk memastikan kesehatan mental guru tetap terjaga. Ketika guru memperoleh dukungan emosional yang layak, mereka dapat kembali mengajar dengan energi positif. Ini penting karena suasana emosional guru sangat memengaruhi atmosfer kelas.
Kesehatan mental guru juga berdampak pada hubungan mereka dengan siswa. Guru yang stabil emosinya lebih mampu memahami kebutuhan siswa dan memberikan respons empatik. Dalam konteks pascabencana, hubungan ini menjadi faktor kunci pemulihan psikososial. Interaksi positif antara guru dan siswa dapat mempercepat proses penyembuhan emosional anak. Dengan demikian, investasi pada kesehatan mental guru sama pentingnya dengan pembangunan fisik sekolah.
Mengembalikan kekuatan guru berarti mengembalikan kekuatan pendidikan itu sendiri. Guru yang sehat secara mental adalah motor penggerak pembelajaran yang berkualitas. Pemerintah dan sekolah harus melihat dukungan emosional sebagai bagian integral dari sistem pendidikan. Ketika guru kembali merasa dihargai dan dipulihkan, mereka dapat menjalankan perannya secara optimal. Pendidikan dasar yang tangguh hanya dapat dibangun di atas fondasi guru yang juga tangguh.
####
Penulis: Aida Meilina