Kesenjangan Digital 2026: Dampaknya pada Pendidikan dan Karier Anak Bangsa
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dampak kesenjangan digital tahun 2026 paling terasa di bidang pendidikan Indonesia. Sekolah-sekolah di daerah perkotaan telah mengadopsi sistem pembelajaran berbasis teknologi secara menyeluruh, dengan penggunaan tablet, papan tulis interaktif, dan platform pembelajaran dare yang terintegrasi. Anak-anak di sini dapat mengakses materi pembelajaran kapan saja dan di mana saja, berinteraksi dengan guru dan teman sekelas secara virtual, serta melakukan penelitian menggunakan sumber daya global yang berlimpah. Hal ini meningkatkan kualitas pendidikan dan membuat mereka lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Di sisi lain, pendidikan di daerah pedesaan masih bergantung pada metode konvensional yang kurang efektif dalam menghadapi perkembangan zaman. Banyak sekolah tidak memiliki perangkat teknologi yang cukup, dan guru seringkali tidak memiliki pelatihan yang memadai untuk menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Anak-anak di sini harus belajar hanya dengan buku pelajaran yang terkadang sudah usang, dan kesempatan untuk melakukan eksperimen atau proyek praktis sangat terbatas. Hal ini membuat mereka sulit memahami konsep-konsep kompleks dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang dibutuhkan dalam dunia kerja modern.
Dampak negatif ini terus berlanjut pada karir anak-anak ketika mereka memasuki usia produktif. Tahun 2026 mencatat bahwa lebih dari 80% perusahaan besar di Indonesia mengharuskan calon karyawannya memiliki keterampilan dasar digital seperti penggunaan aplikasi perkantoran, analisis data dasar, dan kemampuan berkomunikasi melalui platform digital. Anak-anak yang berasal dari daerah dengan akses digital terbatas seringkali tidak memenuhi persyaratan ini, membuat mereka sulit mendapatkan pekerjaan yang baik atau berkarir di sektor yang berkembang pesat.
Meskipun demikian, ada beberapa kasus inspiratif di mana anak-anak pedesaan yang diberikan akses dan pelatihan digital mampu meraih kesuksesan dalam karir mereka. Beberapa dari mereka menjadi pengembang aplikasi lokal yang membantu menyelesaikan masalah masyarakat setempat, sementara yang lain bekerja sebagai pencipta konten atau konsultan digital untuk perusahaan kecil. Kasus-kasus ini membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak dari daerah mana pun dapat mengembangkan potensi mereka dan memiliki karir yang sukses di era digital.
Untuk mengatasi dampak kesenjangan digital pada pendidikan dan karier, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Pemerintah perlu meningkatkan investasi dalam infrastruktur digital dan pendidikan teknologi, sementara sekolah harus mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja modern. Selain itu, perlu adanya program magang dan pelatihan kerja bagi anak-anak muda dari daerah terpencil untuk membantu mereka mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan dan memasuki pasar kerja dengan percaya diri.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah