Kesenjangan Digital dalam Pemanfaatan ChatGPT untuk Pembelajaran di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pemanfaatan ChatGPT dalam pembelajaran sering dianggap sebagai langkah maju menuju pendidikan digital yang lebih modern. Namun kenyataannya, tidak semua sekolah memiliki akses yang sama terhadap perangkat dan jaringan internet. Kesenjangan digital ini membuat sebagian siswa tidak dapat menikmati manfaat teknologi AI seperti teman-temannya. Akibatnya, pembelajaran menjadi tidak merata dan memunculkan ketimpangan baru dalam kualitas pengalaman belajar. Kondisi ini memengaruhi kesempatan belajar anak dalam jangka panjang.
Bagi siswa di sekolah dengan fasilitas terbatas, penggunaan ChatGPT hanya menjadi wacana tanpa praktik nyata. Sementara itu, siswa di sekolah yang lebih maju dapat memanfaatkan AI untuk memperluas wawasan dan mempercepat pemahaman. Ketimpangan ini menciptakan perbedaan kompetensi digital yang signifikan sejak usia dini. Kesenjangan seperti ini perlu mendapatkan perhatian serius karena dapat memengaruhi kesiapan anak menghadapi tantangan abad ke-21. Akses terhadap teknologi seharusnya menjadi hak, bukan privilese.
Guru di sekolah dengan keterbatasan teknologi juga menghadapi tantangan berat. Mereka harus mencari alternatif pembelajaran kreatif tanpa bantuan alat digital yang memadai. Dalam situasi ini, guru dituntut lebih inovatif meskipun beban kerja mereka bertambah. Tantangan ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak bisa hanya berfokus pada perangkat, tetapi juga harus memperhatikan dukungan pelatihan dan infrastruktur. Tanpa itu, pemanfaatan ChatGPT akan sulit dilakukan secara adil dan efektif.
Orang tua di wilayah dengan akses teknologi yang minim juga mengalami kesulitan mendukung pembelajaran anak. Tidak semua keluarga memiliki perangkat pribadi, kuota internet, atau pemahaman mengenai penggunaan AI. Hal ini menyebabkan anak tidak memiliki kesempatan berlatih literasi digital secara konsisten. Padahal kemampuan ini sangat penting sebagai modal masa depan. Kondisi ini mempertegas perlunya dukungan pemerintah dan sekolah dalam menyediakan sarana digital yang setara.
Dengan memahami tantangan kesenjangan digital, sekolah dapat menyusun strategi yang lebih inklusif. Pengadaan perangkat bersama, penggunaan laboratorium komputer secara bergilir, atau penyediaan modul offline dapat menjadi solusi sementara. Sementara itu, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mempercepat pembangunan infrastruktur digital agar semua anak memiliki kesempatan yang sama. Dengan pendekatan yang berkeadilan, ChatGPT dapat menjadi alat yang benar-benar mendukung pembelajaran, bukan sumber ketimpangan baru. Masa depan pendidikan yang inklusif hanya dapat tercapai jika akses digital diperluas secara merata.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari
Dokumentasi: Google