Kesenjangan Digital dan Beban Tersembunyi dalam Proses Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Kesenjangan digital sering dibahas dari sisi
ketersediaan teknologi, namun jarang dilihat sebagai beban tersembunyi dalam
proses belajar. Beban ini tidak selalu terlihat dalam angka atau statistik. Ia
hadir dalam bentuk usaha tambahan yang harus dikeluarkan oleh individu dengan
akses terbatas. Ketika akses tidak memadai, energi mental terserap untuk
mengatasi hambatan teknis. Akibatnya, fokus pada pemahaman materi menjadi
berkurang. Mutu belajar pun terpengaruh secara tidak langsung. Beban tersembunyi
ini menciptakan ketimpangan yang bersifat psikologis dan kognitif.
Hambatan akses
memaksa individu mengalokasikan waktu lebih banyak untuk hal-hal
non-substansial. Waktu yang seharusnya digunakan untuk berpikir mendalam
tersita oleh urusan teknis. Kondisi ini menimbulkan kelelahan mental. Kelelahan
tersebut mengurangi daya serap dan konsentrasi. Proses belajar menjadi kurang
efektif.
Beban tersembunyi
juga muncul dalam bentuk stres dan kecemasan. Ketidakpastian akses menciptakan
tekanan psikologis. Tekanan ini memengaruhi kepercayaan diri dalam belajar.
Individu merasa selalu berada dalam posisi tertinggal. Perasaan ini menghambat
keberanian untuk bereksplorasi.
Selain aspek
psikologis, beban kognitif turut meningkat. Individu harus membagi perhatian
antara memahami materi dan mengelola keterbatasan akses. Pembagian perhatian
ini mengurangi kapasitas berpikir mendalam. Mutu belajar menjadi dangkal dan
terfragmentasi. Beban kognitif yang berlebihan sulit dipertahankan dalam jangka
panjang.
Kesenjangan digital
juga memunculkan ketidakadilan dalam penilaian hasil belajar. Hasil sering
dibandingkan tanpa mempertimbangkan beban yang berbeda. Ketika beban
tersembunyi diabaikan, ketimpangan semakin mengeras. Proses belajar tidak
dinilai secara kontekstual. Hal ini memperkuat rasa ketidakadilan.
Mengatasi beban
tersembunyi memerlukan pengakuan atas keberadaannya. Selama beban ini tidak
diakui, solusi akan bersifat dangkal. Pendekatan yang adil perlu
mempertimbangkan kondisi akses. Dengan demikian, mutu belajar dapat dinilai
secara lebih manusiawi.
Pada akhirnya,
kesenjangan digital menghadirkan beban tersembunyi yang memengaruhi mutu
belajar. Beban ini bekerja di balik layar dan jarang disadari. Tanpa
pengurangan beban tersebut, pemerataan mutu belajar akan sulit tercapai.
###
Penulis: Resinta Aini
Zakiyah