Keterampilan Berinternet Tinggi, Etika Berkomunikasi Digital Siswa Belum Sejajar
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Saat ini, siswa dari berbagai jenjang pendidikan menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam menggunakan internet. Mereka bisa dengan cepat menemukan sumber belajar yang dibutuhkan, berkomunikasi dengan teman sebaya di berbagai wilayah, dan bahkan berpartisipasi dalam aktivitas online yang mendukung pengembangan diri. Di Surabaya, banyak siswa yang aktif dalam komunitas online untuk berbagi pengetahuan tentang hobi, olahraga, atau bidang akademis tertentu. Kemampuan mereka untuk menavigasi berbagai platform dan memanfaatkan fitur-fitur yang ada menjadi bukti kemajuan literasi teknis di kalangan generasi muda.
Namun, ketika berbicara tentang etika berkomunikasi di dunia maya, kondisi yang ditemukan jauh dari harapan. Banyak siswa yang tidak menyadari perbedaan antara komunikasi secara langsung dan komunikasi online. Mereka seringkali menggunakan bahasa yang kasar, menyindir, atau bahkan melakukan bullying secara daring tanpa menyadari konsekuensinya. Beberapa juga cenderung untuk menanggapi atau berkomentar tanpa berpikir matang, hanya karena merasa aman di balik layar ponsel atau komputer. Kasus seperti ini tidak hanya terjadi di kalangan siswa SMA, tetapi juga mulai muncul di tingkat sekolah menengah pertama bahkan dasar.
Faktor budaya dan lingkungan menjadi salah satu penyebab utama ketidaksejajaran antara keterampilan dan etika berkomunikasi digital. Di lingkungan yang lebih terbuka terhadap ucapan bebas, siswa seringkali salah mengartikan bahwa kebebasan tersebut bisa digunakan tanpa batasan. Selain itu, kurangnya pemahaman tentang bagaimana bahasa dan tindakan di dunia maya bisa berdampak pada orang lain menjadi masalah besar. Banyak yang berpikir bahwa apa yang mereka katakan atau lakukan di dunia maya tidak akan memiliki konsekuensi nyata, sehingga mereka merasa bebas untuk melakukan apa saja.
Beberapa inisiatif telah mulai digulirkan untuk meningkatkan etika berkomunikasi digital di kalangan siswa. Di Surabaya, beberapa sekolah bekerja sama dengan organisasi masyarakat untuk mengadakan program pendidikan yang fokus pada komunikasi yang positif dan etis di dunia maya. Materi yang diberikan meliputi cara menyampaikan pendapat dengan sopan, bagaimana menghormati perbedaan pandangan, serta pentingnya mendengarkan dan memahami sudut pandang orang lain. Selain itu, beberapa sekolah juga mengadakan kegiatan seperti lomba tulisan atau pidato tentang pentingnya etika berkomunikasi digital.
Peran orang tua dan guru sangat krusial dalam membentuk perilaku berkomunikasi digital siswa. Orang tua perlu lebih sering berkomunikasi dengan anak-anak mereka tentang bagaimana bersikap di dunia maya, serta memberikan contoh yang baik dalam berkomunikasi online. Guru harus menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendorong komunikasi yang positif, baik secara langsung maupun melalui platform digital yang digunakan di sekolah. Dengan memberikan pemahaman yang benar dan pembimbingan yang tepat, kita bisa membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berinternet mereka dengan cara yang etis dan bermanfaat bagi diri sendiri serta orang lain.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah