Ketika AI Menguji Makna Belajar yang Selama Ini Kita Anggap Selesai
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Selama ini, belajar sering dianggap selesai ketika jawaban ditemukan. AI mengguncang anggapan tersebut. Jawaban kini tersedia dalam hitungan detik. Namun kemudahan ini justru memunculkan pertanyaan baru. Jika jawaban bukan lagi tujuan, apa makna belajar sebenarnya. AI memaksa kita meninjau ulang pemahaman lama. Integritas belajar menjadi pusat perenungan baru. Proses berpikir kembali mendapatkan relevansinya.
Makna belajar tidak berhenti pada akurasi jawaban. Ia terletak pada cara jawaban itu dipahami dan diolah. AI mampu memberikan hasil yang benar. Namun pemahaman tidak bisa diunduh begitu saja. Ketika belajar dipersempit menjadi hasil akhir, maknanya menguap.
AI juga menguji ketekunan intelektual. Ketekunan tidak lagi diuji oleh kelangkaan informasi, melainkan oleh kesabaran memahami. Dalam dunia yang serba cepat, ketekunan menjadi nilai langka. AI memperlihatkan siapa yang masih bersedia bertahan dalam proses.
Makna belajar berkaitan dengan transformasi cara berpikir. Transformasi ini tidak instan. AI tidak dapat menggantikan pergulatan batin dalam memahami kompleksitas. Tanpa pergulatan itu, belajar menjadi aktivitas dangkal.
AI menantang manusia untuk memposisikan diri secara dewasa. Apakah belajar diperlakukan sebagai perjalanan atau sekadar pencapaian. Integritas belajar tumbuh ketika perjalanan dihargai. AI hanya alat penunjang, bukan penentu makna.
Dalam konteks ini, belajar yang bermakna justru menuntut kesadaran lebih tinggi. Kesadaran untuk menggunakan AI tanpa kehilangan refleksi. Kesadaran untuk tidak berhenti pada jawaban pertama. Kesadaran untuk terus bertanya.
Pada akhirnya, AI menguji makna belajar yang selama ini dianggap selesai. Dari ujian ini, integritas belajar menemukan momentumnya. Belajar kembali dimaknai sebagai proses yang hidup, bukan sekadar hasil yang cepat.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah