Ketika AI Menjadi Teman Duduk Diam di Samping Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah riuhnya dunia digital, muncul sosok yang tidak terlihat namun selalu hadir, yakni AI yang menemani anak belajar dalam diam. Ia tidak mengangkat tangan, tidak memberi tatapan menilai, dan tidak menuntut. Kehadirannya terasa ringan, bahkan nyaris seperti bisikan. Anak mengetik pertanyaan, lalu jawaban mengalir dengan tenang. Dari luar, semuanya tampak ideal dan rapi. Namun di balik kerapian itu, ada dinamika belajar yang berubah pelan-pelan. Perubahan ini sering kali tidak disadari sampai kebiasaan baru terbentuk.
Di banyak keluarga, waktu belajar kini menjadi lebih sunyi. Tidak ada lagi percakapan panjang tentang cara mengerjakan soal, karena layar sudah menyediakan penjelasan. Anak bisa belajar sendiri, setidaknya terlihat demikian. Orang tua merasa terbantu, terutama di tengah kesibukan yang padat. Namun sunyi tidak selalu berarti mendalam. Kadang, keheningan justru menandai berkurangnya dialog. Dialog yang sebenarnya penting untuk menumbuhkan pemahaman dan empati belajar.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh budaya serba cepat yang merajalela di media sosial. Tantangan, tutorial singkat, dan konten “cara cepat paham” menjadi konsumsi harian. AI kemudian masuk sebagai alat yang selaras dengan ritme tersebut. Ia menjanjikan pemahaman instan tanpa drama. Anak tumbuh dalam lingkungan yang menghargai kecepatan lebih dari ketekunan. Dalam jangka pendek, hal ini terasa menyenangkan. Dalam jangka panjang, pertanyaannya menjadi lebih kompleks.
AI sebagai tutor bayangan juga membawa perubahan dalam cara anak memaknai kesalahan. Ketika jawaban salah, sistem segera membetulkan tanpa nada kecewa. Tidak ada ekspresi, tidak ada jeda. Kesalahan menjadi sesuatu yang cepat berlalu, bukan bahan refleksi. Padahal, kesalahan adalah ruang belajar yang kaya. Di sanalah anak belajar mengenali pola pikirnya sendiri. Jika ruang ini terlalu cepat ditutup, proses pendewasaan berpikir bisa terhambat.
Meski demikian, tidak semua dampaknya perlu dipandang gelap. AI dapat menjadi alat inklusif bagi anak dengan gaya belajar tertentu. Mereka yang membutuhkan pengulangan atau penjelasan alternatif bisa merasa lebih terfasilitasi. Tutor bayangan ini tidak pernah bosan, tidak pernah marah. Ia menyediakan kesempatan belajar yang lebih setara bagi sebagian anak. Keuntungan ini nyata dan patut diakui. Namun pengakuan ini tidak boleh menghapus kewaspadaan.
Masalah muncul ketika peran AI melebar tanpa kendali. Dari sekadar membantu memahami, ia berubah menjadi pemberi keputusan. Anak tidak lagi bertanya “mengapa”, melainkan “apa jawabannya”. Perubahan kecil dalam pertanyaan ini membawa dampak besar. Rasa ingin tahu bergeser menjadi kebutuhan akan kepastian. Padahal pendidikan bertumbuh dari ketidakpastian yang diolah dengan sabar. Tanpa itu, belajar menjadi dangkal.
Pendampingan menjadi kata kunci yang sering terlupa dalam diskusi ini. AI tidak hidup dalam nilai, ia hanya memproses data. Nilai tentang usaha, kejujuran, dan proses harus datang dari manusia. Anak perlu diajak berdialog tentang kapan boleh menggunakan bantuan dan kapan harus berjuang sendiri. Batas ini tidak selalu kaku, tetapi harus jelas. Dengan begitu, teknologi tidak mengambil alih peran mendidik.
Akhirnya, tutor bayangan ini hanyalah alat, bukan penentu arah. Ia bisa menjadi kursi kecil di samping anak, bukan kursi pengemudi. Belajar tetap membutuhkan interaksi, emosi, dan pengalaman nyata. Ketika AI ditempatkan secara proporsional, ia membantu tanpa merampas makna. Namun ketika ia dibiarkan memimpin, risiko memanjakan menjadi nyata. Pilihan ini ada di tangan kita bersama.
Penulis: Resinta Aini Z.