Ketika Cuaca Semakin Tak Terduga: Pentingnya Anak SD Melek Kesehatan dan Lingkungan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang mulai menyadari bahwa cuaca tidak lagi sama seperti dulu. Pagi hari bisa sangat panas, lalu siang mendadak diguyur hujan deras, dan sore kembali terik seolah tidak terjadi apa-apa. Perubahan cuaca yang begitu cepat dan tak terduga ini bukan hanya membingungkan orang dewasa, tetapi juga membawa dampak besar bagi anak-anak, terutama mereka yang duduk di bangku sekolah dasar.
Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan cuaca. Dengan aktivitas luar ruang yang cukup banyak berlari di lapangan, bermain saat istirahat, atau mengikuti upacara pagi mereka sering kali tidak menyadari bahwa kondisi lingkungan dapat berpengaruh langsung pada kesehatan tubuh mereka. Saat cuaca panas ekstrem, anak lebih mudah mengalami dehidrasi, pusing, atau kelelahan. Ketika hujan turun tanpa henti, risiko diare dan penyakit berbasis air meningkat. Bahkan perubahan suhu yang mendadak pun dapat memicu batuk dan pilek yang sering dianggap sepele.
Di sinilah pentingnya literasi kesehatan dan lingkungan. Literasi tidak hanya berarti kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami informasi di sekitar dan mengambil keputusan yang tepat. Ketika anak-anak ‘melek’ cuaca, mereka mampu mengenali tanda-tanda lingkungan dan menyesuaikan perilaku untuk menjaga kesehatan. Misalnya, mengetahui kapan harus membawa topi saat cuaca panas, kapan sebaiknya berteduh, atau mengapa mencuci tangan sangat penting setelah bermain di luar saat musim hujan.
Mengajarkan hal semacam ini sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan. Guru atau orang tua dapat mengajak anak membuat jurnal cuaca sederhana setiap hari, mencatat apakah hari itu cerah, panas, atau hujan, lalu menghubungkannya dengan bagaimana perasaan tubuh mereka. Aktivitas kecil seperti ini membuat anak lebih peka terhadap perubahan cuaca sekaligus belajar mengenal kondisi tubuh mereka sendiri. Selain itu, menggunakan aplikasi prakiraan cuaca juga bisa menjadi kegiatan menarik. Anak-anak biasanya senang melihat ikon matahari, awan, atau hujan, dan dari sana mereka bisa belajar merencanakan aktivitas harian secara sederhana.
Sekolah juga dapat menjadi tempat yang strategis untuk menanamkan kebiasaan baik terkait kesehatan dan lingkungan. Guru dapat mengajak siswa mengamati tempat-tempat di lingkungan sekolah yang terasa lebih sejuk, misalnya di bawah pohon besar, dan membandingkannya dengan area lapangan yang panas. Dari pengalaman sederhana seperti ini, anak belajar bahwa ruang hijau memiliki peran penting dalam menjaga kenyamanan dan kesehatan.
Semua upaya kecil tersebut sebenarnya sedang menyiapkan generasi yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. Cuaca yang semakin tak terduga tidak bisa kita hindari, tetapi kita bisa membekali anak-anak dengan kemampuan untuk memahami dan mengantisipasinya. Ketika mereka tahu apa yang harus dilakukan saat cuaca berubah, mereka bukan hanya menjaga kesehatannya sendiri, tetapi juga belajar menghargai lingkungan tempat mereka hidup.
Pada akhirnya, literasi kesehatan dan lingkungan bukanlah pelajaran tambahan yang rumit. Ia adalah keterampilan hidup yang akan terus berguna, terutama di masa depan ketika perubahan iklim menjadi tantangan nyata bagi generasi mereka. Dan semuanya bisa dimulai dari hal sederhana: mengajak anak lebih dekat dengan cuaca di sekelilingnya.
Penulis: Aida Meilina
Sumber: images.google.com