Ketika Ingatan Tidak Lagi Dibesarkan oleh Tangan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pembelajaran yang serba digital sering dipandang sebagai bentuk kemajuan yang tak terbantahkan. Layar menawarkan kemudahan, kecepatan, dan kerapian yang sulit ditandingi kertas. Buku tulis perlahan ditinggalkan tanpa banyak perlawanan. Dalam suasana ini, belajar terasa lebih praktis dan ringan. Namun perubahan medium selalu membawa perubahan cara mengingat. Ingatan manusia tidak tumbuh di ruang hampa. Ia dibesarkan oleh pengalaman tubuh.
Saat menulis, tangan menjadi perpanjangan pikiran. Setiap gerakan membantu mengikat konsep dengan sensasi fisik. Proses ini menciptakan ingatan yang lebih personal. Tanpa keterlibatan tangan, belajar menjadi lebih abstrak. Informasi diterima, tetapi tidak selalu dirasakan. Ingatan pun menjadi kurang berakar.
Di media sosial, narasi tentang kecakapan digital sering disederhanakan menjadi kemampuan mengoperasikan perangkat. Anak yang cepat beradaptasi dianggap cerdas. Namun kecerdasan tidak hanya soal kecepatan, melainkan juga kedalaman pemahaman. Video pendek jarang menampilkan proses panjang di balik pemahaman tersebut. Ingatan direpresentasikan sebagai hasil, bukan perjalanan. Padahal perjalanan itulah yang membentuk daya tahan ingatan.
Memori kinestetik membantu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Menulis, menggambar, atau mencoret memberi konteks pada informasi. Ketika konteks ini hilang, pengetahuan berdiri sendiri tanpa penopang. Ia mudah runtuh saat tidak digunakan. Layar menyediakan banyak informasi, tetapi tidak selalu menyediakan pengalaman tubuh. Tanpa pengalaman, ingatan melemah.
Efisiensi sering dipahami sebagai jalan pintas menuju keberhasilan. Namun jalan pintas tidak selalu membawa pemahaman. Proses belajar yang dipersingkat mengurangi kesempatan otak untuk berlatih. Tanpa latihan, ingatan tidak berkembang optimal. Buku tulis dulu memaksa otak untuk bekerja lebih lama. Dalam keterpaksaan itu, ingatan tumbuh.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak mungkin mampu mengenali informasi dengan cepat. Namun saat diminta menjelaskan tanpa bantuan visual, banyak yang terdiam. Pikiran terasa penuh, tetapi sulit diurai. Situasi ini menunjukkan adanya jarak antara mengetahui dan memahami. Ingatan belum sepenuhnya matang. Tubuh tidak dilibatkan dalam proses belajar.
Era tanpa buku tulis menuntut pendekatan yang lebih reflektif. Teknologi tidak perlu ditolak, tetapi perlu ditempatkan secara proporsional. Memori kinestetik adalah bagian dari cara manusia belajar sejak lama. Mengabaikannya berarti mengorbankan kedalaman demi kecepatan. Pendidikan yang bijak adalah pendidikan yang menjaga keseimbangan itu.
Penulis: Resinta Aini Z.