Ketika Menyalin Terasa Biasa dan Kejujuran Perlu Diperkenalkan Kembali
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kejujuran dalam belajar dulunya dihadapkan pada situasi yang jelas. Menyontek terlihat, meniru mudah dikenali. Kini, semuanya berlangsung lebih senyap di balik layar. Anak dapat berpindah dari satu sumber ke sumber lain tanpa jeda. Dalam keheningan itu, menyalin terasa biasa. Integritas pun perlahan kehilangan bentuknya. Padahal nilai ini tidak pernah kehilangan makna.
Dalam aktivitas sehari-hari, anak sering berhadapan dengan tugas yang menuntut jawaban tertulis. Di hadapannya, internet menawarkan ribuan contoh. Godaan untuk mengambil jalan cepat begitu besar. Tidak semua anak paham bahwa tindakan tersebut bermasalah. Bagi mereka, itu sekadar memanfaatkan fasilitas. Tanpa pemahaman nilai, teknologi menjadi pedang bermata dua.
Budaya viral turut membentuk persepsi tentang karya. Konten yang sama bisa muncul dalam berbagai versi tanpa penjelasan asal-usul. Anak melihat pengulangan sebagai hal wajar. Ketika pola ini terbawa ke dunia belajar, orisinalitas terasa asing. Ide pribadi kalah pamor dibandingkan ide populer. Padahal kejujuran lahir dari keberanian menjadi berbeda.
Mengajarkan integritas berarti memperkenalkan ulang makna kejujuran dalam konteks baru. Bukan sekadar berkata benar, tetapi bertindak jujur dalam berkarya. Anak perlu memahami bahwa ide orang lain patut dihargai. Menghargai berarti tidak mengklaim sebagai milik sendiri. Pemahaman ini perlu disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan pengalaman mereka. Bukan dengan istilah yang kaku.
Di sisi lain, anak juga perlu ruang untuk belajar dari contoh. Meniru sebagai tahap awal tidak sepenuhnya salah. Yang perlu ditekankan adalah transformasi. Dari meniru menuju mencipta. Dari melihat menuju mengolah. Proses ini harus disadari, bukan dibiarkan kabur. Dengan kesadaran, meniru berubah menjadi belajar.
Kejujuran juga berkaitan erat dengan rasa percaya diri. Anak yang percaya pada kemampuannya lebih berani menampilkan ide sendiri. Sebaliknya, rasa rendah diri sering mendorong jalan pintas. Maka integritas tidak bisa dipisahkan dari dukungan emosional. Anak perlu diyakinkan bahwa idenya, sekecil apa pun, tetap bernilai. Nilai ini tidak bisa dicari di mesin pencari.
Pada akhirnya, kejujuran dalam berkarya adalah fondasi karakter. Dunia digital mungkin menawarkan kemudahan, tetapi karakter dibentuk melalui pilihan sadar. Anak belajar bahwa apa yang ia tulis mencerminkan siapa dirinya. Ketika kejujuran menjadi kebiasaan, orisinalitas tumbuh dengan alami. Dari situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam.
Penulis: Resinta Aini Z.