Ketika Polarisasi Global Menguji Ketahanan Nilai Moral
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Polarisasi sosial
dan politik global berkembang seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi.
Informasi menyebar cepat, namun pemahaman tidak selalu mengikuti. Perbedaan
pandangan diperkuat oleh algoritma dan narasi sepihak. Dalam situasi ini, nilai
moral sering terdesak oleh kepentingan kelompok. Pendidikan moral diuji
kemampuannya untuk bertahan di tengah tekanan tersebut. Nilai kejujuran,
keadilan, dan empati kerap dianggap naif. Padahal justru nilai-nilai inilah
yang dibutuhkan dalam situasi terpolarisasi. Ketahanan moral menjadi isu
sentral dalam menghadapi fragmentasi sosial.
Polarisasi mengubah cara individu memaknai kebenaran.
Kebenaran tidak lagi dicari, tetapi dipilih sesuai afiliasi. Pendidikan moral
berperan mengembalikan pencarian kebenaran sebagai proses etis. Proses ini
menuntut kejujuran intelektual dan kerendahan hati. Tanpa keduanya, dialog
kehilangan makna. Nilai moral menjadi penopang integritas dalam berpikir.
Tekanan kelompok sering mendorong kompromi moral.
Individu terdorong menyesuaikan sikap demi penerimaan sosial. Pendidikan moral
membantu membangun keberanian etis. Keberanian ini memungkinkan individu tetap
berpegang pada nilai meskipun berbeda. Sikap ini penting untuk menjaga
keberagaman yang sehat.
Polarisasi global juga memunculkan relativisme moral
yang ekstrem. Segala sesuatu dianggap benar selama menguntungkan kelompok
sendiri. Pendidikan moral menegaskan batas antara toleransi dan pembenaran.
Toleransi menghargai perbedaan, bukan membenarkan ketidakadilan. Pemahaman ini
krusial agar nilai tidak larut dalam kepentingan sesaat.
Selain itu, pendidikan moral menumbuhkan kesadaran
akan dampak global dari tindakan lokal. Polarisasi tidak berhenti pada batas
negara. Narasi kebencian dapat menyebar lintas budaya dan wilayah. Kesadaran
moral membantu individu memahami keterkaitan global ini. Dari pemahaman
tersebut lahir tanggung jawab yang lebih luas.
Ketahanan nilai moral juga ditentukan oleh kemampuan
refleksi kritis. Refleksi membantu memilah antara keyakinan dan prasangka.
Pendidikan moral mendorong proses refleksi ini secara mendalam. Dengan
refleksi, individu tidak mudah terseret arus polarisasi. Nilai moral menjadi
jangkar dalam ketidakpastian.
Pada akhirnya, polarisasi global menguji ketahanan
nilai moral dalam diri setiap individu. Pendidikan moral tidak menawarkan
perlindungan mutlak, tetapi bekal yang esensial. Bekal ini memungkinkan manusia
tetap berpijak pada nilai kemanusiaan di tengah dunia yang terpecah.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah