Ketika Soal PISA Menggugat Cara Lama Memahami Matematika
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Hasil PISA sering kali dibicarakan sebagai angka peringkat, padahal sesungguhnya ia membawa pesan yang lebih dalam tentang cara memahami matematika. Di balik setiap soal kontekstual, tersimpan kritik halus terhadap kebiasaan belajar yang terlalu prosedural. Matematika tidak lagi diposisikan sebagai kumpulan langkah baku, melainkan sebagai proses berpikir yang lentur dan adaptif. Namun, realitas kelas masih menunjukkan dominasi pembelajaran rutin yang menekankan pengulangan. Pola ini membentuk kebiasaan mencari jawaban cepat tanpa memahami persoalan secara menyeluruh. Ketika dihadapkan pada situasi yang tidak familiar, kebingungan pun muncul. PISA seolah hadir untuk menggugat cara lama yang selama ini dianggap wajar. Gugatan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk membuka ruang refleksi.
Soal kontekstual menuntut kemampuan membaca situasi sebelum melakukan perhitungan. Peserta didik diajak memahami latar masalah, mengenali informasi penting, serta menyingkirkan data yang tidak relevan. Proses ini membutuhkan keterampilan bernalar yang tidak bisa dibangun secara instan. Pembelajaran rutin yang terlalu fokus pada pola soal seragam kurang memberi kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut. Akibatnya, matematika terasa mudah dalam konteks tertentu, tetapi rapuh ketika konteks berubah.
Dalam praktik sehari-hari, matematika sering disajikan sebagai aktivitas individual yang sunyi. Setiap orang berhadapan dengan soal dan berusaha menemukan jawaban sendiri. Padahal, soal PISA justru membuka peluang untuk diskusi dan pertukaran ide. Banyak persoalan yang dapat diselesaikan dengan berbagai pendekatan, masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Tanpa budaya diskusi, keberagaman cara berpikir ini jarang muncul ke permukaan.
Kesenjangan antara tuntutan PISA dan pembelajaran rutin juga terlihat pada cara kesalahan dipandang. Kesalahan sering dianggap sebagai tanda kegagalan, bukan sebagai bagian dari proses belajar. Akibatnya, peserta didik cenderung bermain aman dan mengikuti contoh yang ada. Soal kontekstual menuntut keberanian untuk mencoba dan berisiko salah. Tanpa ruang aman untuk melakukan kesalahan, kemampuan bernalar sulit berkembang.
Pembelajaran rutin sebenarnya dapat menjadi fondasi yang kuat jika diolah secara reflektif. Setiap latihan dapat dijadikan bahan untuk bertanya mengapa suatu langkah dilakukan dan apa maknanya dalam konteks yang lebih luas. Dengan pendekatan ini, rutinitas tidak lagi monoton, tetapi menjadi sarana membangun pemahaman konseptual. Matematika pun perlahan berubah dari aktivitas mekanis menjadi proses berpikir yang hidup.
Soal PISA mengingatkan bahwa matematika adalah alat untuk memahami dunia yang kompleks. Ia menuntut fleksibilitas berpikir dan kemampuan menyesuaikan strategi. Ketika pembelajaran masih terpaku pada satu cara benar, fleksibilitas tersebut sulit tumbuh. Dibutuhkan keberanian untuk membuka ruang bagi berbagai pendekatan dan interpretasi.
Pada akhirnya, gugatan PISA terhadap cara lama memahami matematika adalah ajakan untuk bertransformasi. Transformasi ini tidak berarti meninggalkan pembelajaran rutin, melainkan memperkaya dan memaknainya. Ketika matematika dipahami sebagai proses berpikir yang dinamis, maka tantangan PISA tidak lagi terasa sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk tumbuh.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah