Ketika Teknologi Menjadi Saringan Mutu Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Perkembangan
teknologi telah mengubah cara belajar secara fundamental. Informasi kini
tersedia dalam berbagai format digital yang interaktif. Namun perubahan ini
membawa konsekuensi yang tidak merata. Teknologi secara tidak langsung menjadi
saringan mutu belajar. Mereka yang mampu mengaksesnya mendapatkan keuntungan
lebih besar. Sementara yang tertinggal harus berjuang dengan keterbatasan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu netral. Ia dapat
memperkuat ketimpangan yang sudah ada.
Akses terhadap teknologi menentukan kelancaran proses
belajar. Ketersediaan perangkat memengaruhi frekuensi dan kedalaman interaksi
dengan materi. Individu dengan akses memadai dapat belajar secara fleksibel.
Sebaliknya, keterbatasan akses membatasi ruang eksplorasi. Proses belajar
menjadi terfragmentasi dan kurang mendalam.
Selain itu, teknologi memungkinkan pembaruan informasi
secara cepat. Mereka yang terhubung dapat mengikuti perkembangan terbaru.
Sementara itu, keterbatasan akses membuat informasi yang diperoleh cenderung
usang. Perbedaan ini berdampak pada relevansi pengetahuan. Mutu belajar pun
terpolarisasi antara yang terkoneksi dan yang tidak.
Teknologi juga mengubah cara berpikir dan memecahkan
masalah. Akses terhadap beragam sumber mendorong pemikiran kritis dan
komparatif. Tanpa akses, proses berpikir cenderung linear dan terbatas.
Ketimpangan ini tidak selalu disadari, tetapi dampaknya signifikan. Mutu
belajar menjadi hasil dari lingkungan digital yang melingkupinya.
Kesenjangan digital juga berkaitan dengan waktu
belajar. Akses yang stabil memungkinkan pengelolaan waktu yang lebih efektif.
Sebaliknya, keterbatasan akses sering memaksa individu menunggu kesempatan
tertentu. Waktu belajar menjadi tidak efisien dan penuh jeda. Kondisi ini
mengurangi kontinuitas pembelajaran.
Faktor psikologis turut terpengaruh oleh kesenjangan
digital. Keterbatasan akses dapat menimbulkan rasa tertinggal dan frustasi.
Perasaan ini memengaruhi motivasi belajar. Sementara itu, akses yang lancar
meningkatkan rasa percaya diri. Perbedaan psikologis ini ikut menentukan mutu
hasil belajar.
Pada akhirnya, teknologi berfungsi sebagai saringan
yang menentukan mutu belajar. Akses yang tidak merata menjadikan teknologi
sebagai faktor selektif. Jika tidak diimbangi kebijakan yang adil, kesenjangan
digital akan terus membentuk ketimpangan mutu belajar di masa depan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah