Ketimpangan Pendidikan Pasca-Bencana dan Tantangan Aksesibilitas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Bencana di Aceh dan Sumut kembali memperlihatkan ketimpangan akses pendidikan yang sudah lama terjadi. Banyak sekolah rusak, buku hilang, dan anak terpaksa belajar di tenda darurat. Di sisi lain, sekolah di wilayah yang tidak terdampak tetap berjalan dengan fasilitas lengkap. Kesenjangan ini menciptakan jarak belajar yang semakin lebar di antara siswa. Tanpa intervensi yang serius, generasi anak pascabencana berpotensi tertinggal secara signifikan.
Keterbatasan fasilitas pascabencana bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga memengaruhi motivasi siswa. Anak yang belajar dalam kondisi tidak nyaman sering kesulitan berkonsentrasi dan mempertahankan minat belajar. Guru pun menghadapi tantangan berat untuk menciptakan pembelajaran bermakna di tengah keterbatasan sumber daya. Kualitas pendidikan menjadi tidak merata, bahkan antar kelas dalam satu sekolah. Situasi ini menuntut strategi inovatif agar proses belajar tetap berkualitas.
Program pemulihan pendidikan harus mencakup penyediaan ruang kelas darurat yang layak dan materi belajar yang memadai. Intervensi cepat seperti bantuan buku, alat tulis, dan perangkat digital dapat membantu memulai kembali proses pembelajaran. Pemerintah juga perlu memperkuat koordinasi dengan komunitas lokal dan organisasi sosial untuk mempercepat normalisasi sekolah. Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur tahan bencana menjadi wajib untuk memutus siklus kerusakan berulang. Langkah-langkah ini memberi kesempatan yang lebih adil bagi anak.
Tantangan akses pendidikan juga diperparah oleh hambatan ekonomi keluarga yang terjadi setelah bencana. Banyak orang tua kehilangan pekerjaan atau harus berpindah tempat tinggal, sehingga pendidikan anak sering terabaikan. Sekolah harus memfasilitasi program dukungan seperti pembebasan biaya, bantuan seragam, dan program makan siang. Upaya ini meringankan beban keluarga sekaligus meningkatkan partisipasi siswa. Pendidikan sebagai hak dasar harus dijamin meskipun keluarga mengalami keterpurukan.
Ketimpangan pendidikan pascabencana adalah isu yang membutuhkan perhatian lintas sektor. Pendidikan dasar harus menjadi prioritas dalam penanganan darurat maupun pembangunan jangka panjang. Ketika akses kembali pulih dan kualitas pembelajaran terjaga, anak-anak dapat memulihkan ritme belajarnya. Peran pemerintah, sekolah, dan masyarakat sangat menentukan masa depan generasi ini. Bencana boleh menghancurkan bangunan fisik, tetapi tidak boleh menghentikan hak anak untuk belajar.
####
Penulis: Aida Meilina