Konsultan Gizi Virtual: ChatGTP Bantu Siswa SD Menyusun Menu Kantin Sehat Berbasis Lokal
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Memastikan asupan gizi yang baik bagi anak usia sekolah merupakan salah satu target utama dalam SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan). Untuk memberikan pemahaman mendalam tentang nutrisi, guru kelas mengajak siswa melakukan eksperimen dengan ChatGPT untuk menyusun rencana menu makan siang sehat yang menggunakan bahan-bahan pangan lokal seperti ubi, jagung, dan sayuran tradisional. Siswa diminta memberikan instruksi kepada AI untuk membuatkan resep yang enak namun rendah gula dan garam agar sesuai untuk anak-anak. Aktivitas ini sangat realistis karena melatih siswa untuk berinteraksi dengan kecerdasan buatan dalam memecahkan masalah kesehatan praktis di sekolah mereka.
Dalam interaksi tersebut, guru membimbing siswa untuk menyusun kalimat tanya atau prompt yang detail, misalnya menanyakan kandungan vitamin dalam sayur bayam atau protein dalam tempe. Siswa belajar bahwa AI dapat menjadi asisten riset yang sangat cepat untuk mengumpulkan informasi gizi yang biasanya tersebar di banyak buku pelajaran. Melalui jawaban yang diberikan oleh ChatGPT, siswa diajak untuk menganalisis mengapa makanan tertentu lebih baik daripada makanan cepat saji yang sering mereka temui di luar sekolah. Proses belajar ini meningkatkan literasi kesehatan siswa sekaligus memberikan pengalaman baru dalam mengoperasikan teknologi mutakhir secara produktif dan edukatif.
Selain menyusun menu, siswa juga diminta untuk meminta saran dari ChatGPT tentang cara menyajikan sayuran agar terlihat lebih menarik bagi teman-teman mereka yang kurang suka makan sayur. Rekomendasi kreatif dari AI, seperti membuat "Nugget Sayur Warna-Warni" atau "Salad Buah Pelangi", kemudian didiskusikan dengan pengelola kantin sekolah. Dialog antara siswa, teknologi, dan pengelola kantin ini membangun ekosistem sekolah yang peduli pada kualitas hidup siswa. Anak-anak merasa bangga karena suara mereka yang didukung oleh data digital dapat memengaruhi kebijakan penyediaan makanan di sekolah, sehingga menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi.
Kegiatan ini juga selaras dengan SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, di mana siswa belajar untuk lebih menghargai bahan makanan lokal yang melimpah di sekitar mereka. Dengan bantuan ChatGPT, siswa dapat menemukan fakta bahwa bahan pangan lokal seringkali memiliki nutrisi yang lebih segar dan jejak karbon yang lebih rendah karena tidak perlu dikirim dari jarak jauh. Pemahaman ekologis yang dibungkus dengan cara modern ini sangat efektif meresap ke dalam pola pikir siswa generasi alfa yang sudah akrab dengan teknologi sejak lahir. Sekolah dasar berhasil menjadi pusat inovasi gizi yang cerdas dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, pemanfaatan ChatGPT sebagai konsultan gizi di sekolah dasar merupakan terobosan yang sangat relevan dengan perkembangan zaman. Siswa tidak hanya belajar tentang teori nutrisi, tetapi juga belajar cara mengevaluasi informasi yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Guru memastikan bahwa setiap saran dari AI tetap diverifikasi dengan pengetahuan medis yang ada, sehingga siswa belajar untuk tetap kritis dan tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi. Langkah inovatif ini memastikan bahwa setiap siswa memiliki bekal pengetahuan kesehatan yang mumpuni untuk menjaga tubuh mereka tetap sehat dan kuat menuju masa depan yang gemilang.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia