Koordinasi Bebas Sampah: Guru Gunakan WhatsApp Web untuk Memantau Program Bekal Tanpa Plastik
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai merupakan langkah konkret dalam mendukung SDG 12 dan SDG 14. Di sebuah sekolah dasar, guru kelas memanfaatkan WhatsApp Web melalui komputer kelas untuk mengoordinasikan gerakan "Bekal Hijau" secara harian. Guru meminta siswa atau orang tua untuk mengirimkan foto bekal makanan yang menggunakan wadah guna ulang sebelum berangkat sekolah sebagai bentuk laporan singkat. Penggunaan platform ini sangat realistis karena memudahkan guru untuk memantau komitmen siswa secara cepat dan terorganisir di layar besar, yang kemudian hasilnya dapat dipajang atau diberikan apresiasi langsung di depan kelas saat pelajaran dimulai.
Melalui kenyamanan papan ketik pada WhatsApp Web, guru dapat memberikan umpan balik yang lebih mendalam dan cepat berupa pujian atau saran nutrisi kepada siswa. Koordinasi digital ini juga melibatkan paguyuban orang tua, sehingga tercipta sinergi yang kuat antara pendidikan karakter di rumah dan di sekolah. Orang tua merasa lebih termotivasi untuk menyiapkan bekal yang ramah lingkungan karena mereka tahu bahwa usaha mereka dihargai dan dipantau oleh guru secara rutin. Teknologi pesan instan ini bertransformasi dari sekadar alat komunikasi menjadi sarana manajemen program lingkungan yang sangat efektif dan murah meriah di level pendidikan dasar.
Selain untuk pelaporan, guru juga menggunakan platform ini untuk membagikan stiker-stiker edukasi tentang bahaya plastik bagi ekosistem laut yang dibuat sendiri oleh siswa. Pesan-pesan singkat namun bermakna ini dikirimkan melalui grup kelas untuk terus mengingatkan siswa tentang misi besar mereka menjaga bumi. Anak-anak merasa senang karena interaksi dengan guru terasa lebih modern dan dekat dengan gaya hidup digital mereka. Proses belajar tentang lingkungan tidak lagi terasa seperti ceramah satu arah, melainkan sebuah percakapan komunitas yang aktif dan berkelanjutan sepanjang hari, yang sangat membantu dalam pembentukan kebiasaan baru yang positif.
Guru juga memanfaatkan fitur "arsip" dan "cari" di WhatsApp Web untuk mendokumentasikan perkembangan program ini selama satu semester. Data foto bekal yang terkumpul kemudian diolah menjadi laporan pencapaian keberlanjutan sekolah, yang menunjukkan berapa banyak kantong plastik yang berhasil dihemat oleh satu kelas. Transparansi data ini sangat penting untuk memberikan bukti nyata kepada siswa bahwa tindakan kecil mereka secara kolektif memiliki dampak yang sangat besar bagi kelestarian alam. Siswa belajar bahwa teknologi dapat membantu manusia dalam mengatur gerakan sosial yang masif dan terencana untuk kebaikan bersama.
Secara keseluruhan, penggunaan WhatsApp Web dalam program bekal tanpa plastik ini membuktikan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus menggunakan aplikasi baru yang rumit. Dengan mengoptimalkan alat yang sudah ada, sekolah dasar berhasil menciptakan budaya ramah lingkungan yang inklusif dan partisipatif. Siswa tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan, sementara guru memiliki instrumen pengawasan yang efisien. Inovasi ini adalah contoh sukses bagaimana teknologi komunikasi sederhana dapat dikonversi menjadi alat pendidikan karakter yang sangat kuat untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia