Krisis Figur Teladan: Mengapa Influencer Menjadi Guru Bayangan bagi Generasi Alpha?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ruang kelas
sekolah dasar saat ini menghadapi "guru bayangan" yang tidak kasat
mata namun pengaruhnya sangat mendominasi: para influencer media sosial
yang setiap ucapannya dianggap lebih kredibel oleh siswa dibandingkan instruksi
resmi dari sekolah. Fenomena ini telah berkembang menjadi krisis identitas
pendidikan yang serius, di mana nilai-nilai etika dan moral yang ditanamkan di
sekolah sering kali bertabrakan dengan gaya hidup instan dan konsumtif yang
dipromosikan secara agresif di platform digital. Pergeseran kepercayaan ini
menunjukkan bahwa otoritas moral guru sedang berada di titik nadir dalam
ekosistem digital yang cenderung liar dan minim pengawasan nilai.
Masalah utama terletak
pada personifikasi konten yang sangat kuat; influencer mampu membangun
kedekatan personal yang intens melalui interaksi dua arah di kolom komentar dan
siaran langsung, sebuah kemewahan hubungan yang jarang didapatkan siswa dalam
relasi guru-murid yang sering kali bersifat birokratis. Siswa merasa lebih "dikenali"
dan "dihargai" oleh idola di layar gawai mereka daripada oleh guru
yang harus membagi perhatiannya kepada puluhan anak di dalam kelas yang padat.
Kedekatan semu yang dimediasi oleh teknologi ini membangun kepercayaan buta
yang melampaui batasan logika akademik dan objektivitas informasi.
Data di lapangan
menunjukkan indikasi bahwa banyak siswa mulai meragukan relevansi jangka
panjang dari sekolah karena mereka terpapar narasi kesuksesan finansial para
pembuat konten yang sering kali mempromosikan jalur kesuksesan tanpa pendidikan
formal. Narasi ini menjadi ancaman eksistensial bagi dunia pendidikan jika
tidak segera diimbangi dengan kurikulum literasi ekonomi dan pendidikan
karakter yang menyentuh aspek aspirasi anak di dunia digital. Kurikulum kita
saat ini masih terlalu fokus pada pencapaian kognitif sempit, namun abai dalam
menyentuh sisi afektif dan imajinasi masa depan anak yang telah terdistorsi
oleh tren internet.
Kekalahan pamor guru juga
dipicu oleh ketimpangan literasi digital yang cukup lebar, di mana banyak
pendidik belum mampu memanfaatkan platform media sosial sebagai instrumen
pembelajaran yang efektif. Ketika terjadi diskrepansi informasi antara apa yang
tertulis di buku teks dengan apa yang viral di video pendek, siswa cenderung
memilih yang paling viral karena dianggap lebih mutakhir dan relevan dengan
percakapan sosial teman sebaya mereka. Hal ini menciptakan tantangan bagi guru
untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga harus melakukan upaya
"de-programing" terhadap misinformasi yang telanjur meresap di
pikiran siswa.
Untuk merebut kembali
kepercayaan tersebut, institusi pendidikan harus berani merobohkan tembok
formalitas kaku yang selama ini membatasi interaksi dengan realitas dunia
siswa. Integrasi konten digital yang berkualitas dan relevan ke dalam ruang
kelas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis untuk memastikan guru
tetap menjadi rujukan utama. Guru tidak boleh lagi memandang media sosial
sebagai musuh, melainkan sebagai medan tempur intelektual di mana mereka harus
hadir dengan narasi yang lebih kuat, lebih bijak, dan tentu saja lebih memikat.
Upaya ini memerlukan
dukungan sistemik melalui pelatihan guru yang berkelanjutan agar mereka tidak
hanya melek teknologi secara teknis, tetapi juga secara metodologis mampu
menyaingi daya tarik para pembuat konten. Pendidikan karakter harus
diredefinisi dalam konteks warga digital, di mana siswa diajarkan untuk
membedakan antara popularitas dan kebenaran substantif. Hanya dengan menjadi
bagian dari dunia mereka secara autentik, guru dapat kembali menegakkan
fungsinya sebagai mercusuar moral dan intelektual bagi generasi Alpha yang
sedang mencari jati diri di tengah hiruk-pikuk digital.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah