Krisis Nilai di Sekolah: Menghidupkan Pendidikan Karakter melalui Diskusi Terbimbing Berbasis ChatGPT
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Fenomena krisis nilai seperti perundungan dan intoleransi menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Sekolah tidak hanya bertugas mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Pendidikan karakter perlu dihidupkan melalui dialog dan refleksi. Anak perlu ruang untuk berdiskusi tentang nilai dan moral. Pendekatan ini menuntut kreativitas guru.
Diskusi terbimbing menjadi strategi efektif dalam pendidikan karakter. Anak diajak mengemukakan pendapat dan mendengarkan perspektif lain. Proses ini melatih empati dan keterbukaan. ChatGPT dapat dimanfaatkan untuk memunculkan skenario atau pertanyaan diskusi. Guru tetap mengarahkan alur dan kedalaman pembahasan.
Melalui pertanyaan terbuka, anak diajak berpikir tentang konsekuensi tindakan. Diskusi tidak bersifat menggurui, tetapi dialogis. Anak belajar menilai situasi secara moral. ChatGPT berperan sebagai pemantik ide, bukan penentu nilai. Nilai tetap dibangun melalui interaksi manusiawi.
Pendidikan karakter yang dialogis membantu anak menginternalisasi nilai secara lebih mendalam. Anak tidak hanya tahu mana yang benar, tetapi memahami alasannya. Proses ini membutuhkan konsistensi dan keteladanan. Guru menjadi figur sentral dalam menanamkan nilai. Teknologi mendukung, bukan menggantikan peran tersebut.
Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan karakter dapat dihidupkan kembali. ChatGPT menjadi alat bantu yang memperkaya diskusi. Fokus utama tetap pada pembentukan sikap dan perilaku. Sekolah menjadi ruang aman untuk belajar tentang nilai kehidupan. Inilah fondasi penting bagi generasi masa depan.
Penulis: Arumita Wulan Sari